KALAMANTHANA, Penajam – Seorang nelayan, Lukman, hilang di perairan Desa Api-api, Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara. Kesaksian warga menungkap detik-detik terakhir kapalnya sebelum hilang.
Lukman, pria berusia 54 tahun, warga Desa Api-api, melaut untuk mencari nafkahnya pada Senin 15 Juni 2026. Tapi, dia tak kembali lagi. Kini, proses pencariannya dilakukan Tim SAR Gabungan.
Seorang warga, sebagaimana dilaporkan Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara, sempat melihat kapal yang digunakan Lukman tersebut.
Sang warga menyaksikan kapal yang diduga milik korban, berada sekitar 1 mil dari pesisir pantai, terpatnya di aera antara pelelangan menuju area bagang.
Warga tersebut melihat ada hal yang sedikit aneh dari kapal yang diduga digunakan Lukman. Kapal tersebut terindikasi bergerak sangat lambat.
“Diduga kapal mengalami kerusakan mesin atau tersangkut jaring,” sebut Pusdalops BPBD Penajam Paser Utara.
BPBD Penajam Paser Utara menyebutkan pihaknya menerima laporan hilangnya Lukman pada Selasa 16 Juni 2026 sekitar pukul 16.06 Wita.
Proses pencarian pun dilakukan hari itu juga hingga menembus malam. Namun, hingga pukul 23.30 Wita, keberadaan Lukman dan kapalnya belum juga diketahui.
Lukman sendiri mulai melaut pada Senin 15 Juni 2026. Seperti kebiasaannya, dia berangkat seorang diri sekitar pukul 17.00 Wita. Lukman melaut menuju sekitaran perairan Api-api.
Sejatinya, itu hal yang dilakukan Lukman sehari-hari. Biasanya, dia akan kembali ke darat pada keesokan harinya sekitar pukul 07.00 Wita.
Namun kali ini, hingga sore hari, Lukman belum juga kembali. Anaknya kemudian menyampaikan laporan kejadian tersebut kepada Pusdalops BPBD untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dari informasi anaknya, kapal yang digunakan Lukman merupakan kapal nelayan berukuran cukup besar sekitar 7 papan. Dari sisi sisi keamanan kapal masih dinilai kemungkinan dalam kondisi aman.
Saat dilakukan pemantauan, kondisi air laut sedang surut cukup jauh sehingga kapal nelayan lain mengalami kesulitan untuk mendekati lokasi tersebut.
Selain itu, kondisi gelombang laut yang cukup besar menyebabkan warga maupun nelayan yang sudah berada di laut belum berani mendekat ke area yang diduga menjadi lokasi keberadaan korban. (*)