KALAMANTHANA, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum mereda. Hingga 18 September 2026, sebanyak 981 kejadian Karhutla telah ditangani dengan total 1.848,72 hektare lahan terbakar.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim juga mencatat 26.335 titik panas atau hotspot terdeteksi hingga 18 September 2026 pukul 08.16 WIB.
Jumlah tersebut jauh melampaui catatan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, BPBD Kotim mencatat 453 hotspot, sedangkan pada 2026 angkanya telah mencapai 26.335 titik hingga 18 September.
Kepala BPBD Kotim, Imam Subekti, mengatakan kondisi Karhutla masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
“Kebakaran yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur masih belum menunjukkan akan berhenti,” kata Imam saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9/2026).
Bahkan dalam periode 24 jam, petugas kembali menangani 12 kejadian Karhutla baru.
Kejadian tersebut tercatat sejak 17 September pukul 18.00 WIB hingga 18 September pukul 18.00 WIB. Sebanyak delapan kejadian terjadi di Baamang, dua di Mentawa Baru Ketapang serta masing-masing satu kejadian di Mentaya Hilir Utara dan Telawang.
Dari total luasan lahan terbakar, Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan dampak terluas, mencapai 703,50 hektare atau sekitar 38,05 persen dari total Karhutla Kotim.
Selanjutnya Mentawa Baru Ketapang dengan 421,28 hektare atau 22,79 persen dan Baamang mencapai 362,71 hektare atau 19,62 persen.
Besarnya jumlah hotspot menjadi perhatian karena kemunculannya berlangsung di tengah kondisi musim kemarau. Tim gabungan masih harus bergerak cepat menangani titik api, terutama di kawasan dengan vegetasi kering yang berpotensi mempercepat penjalaran kebakaran.
Karhutla juga berpotensi menimbulkan dampak lebih luas ketika asap menyebar ke permukiman. Kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
BPBD mengingatkan kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan selama kondisi masih rawan. Pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara dibakar berisiko memicu munculnya titik api baru.
Dengan jumlah kejadian, luasan lahan terbakar dan hotspot yang terus meningkat, penanganan Karhutla di Kotim masih membutuhkan respons cepat serta kewaspadaan seluruh pihak. (Su).