KALAMANTHANA, Sampit – Kepungan asap semakin pekat menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Di tengah jarak pandang yang terus menurun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) justru kian meluas di berbagai lokasi.
Sedikitnya 20 titik kebakaran ditangani Satgas Karhutla Kotim pada Selasa (22/9/2026). Sebaran api ditemukan di beberapa kawasan strategis, mulai dari Jalan Jenderal Sudirman Km 18, Km 9, Perumahan Robi, area pemakaman Km 6,5, sekitar SMPN 8, arah Betang, Sawit Raya, Lingkar Utara, hingga kawasan sekitar Bandara dan Jalan Tjilik Riwut.
Koordinator Harian Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat ada 1.081 kejadian kebakaran yang telah ditangani, dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.880,57 hektare.
“Jumlah kejadian yang sudah kita tangani mencapai 1.081 titik, dengan total luas lahan terbakar sekitar 1.880,57 hektare,” ujar Rihel.
Luasnya area yang terbakar bukan satu-satunya tantangan bagi tim di lapangan. Asap tebal yang mengepul juga mulai melumpuhkan operasi pemadaman dari udara (water bombing).
Pada Selasa, helikopter pemadam hanya sempat melakukan satu sortie di kawasan Baamang Hulu. Dalam operasi selama hampir tiga jam tersebut, helikopter memuntahkan air sebanyak 26 kali dan berhasil memadamkan sekitar lima hektare lahan.
Setelah itu, penerbangan terpaksa dihentikan total karena jarak pandang (visibility) anjlok drastis hingga tersisa 400 meter sampai satu kilometer. Jarak tersebut sangat berbahaya untuk aktivitas penerbangan.
“Kalau visibility terlalu pendek, risikonya sangat tinggi. Idealnya minimal sekitar 4,5 kilometer agar helikopter bisa terbang aman,” terang Rihel.
Sehari sebelumnya, operasi water bombing sempat menyasar dua lokasi. Di Rawasari, helikopter menyiramkan air sebanyak 16 kali untuk memadamkan lahan seluas tiga hektare. Sementara di Baamang Hulu, sembilan kali penjatuhan air dilakukan untuk menangani lahan seluas dua hektare.
Pekatnya kabut asap kini memicu persoalan berlapis. Di saat titik api baru terus bermunculan, kepulan asap justru mengunci pergerakan tim udara yang menjadi tumpuan utama pemadaman area terisolasi.
Meski begitu, pemadaman lewat jalur darat terus dimaksimalkan. Namun, Rihel menegaskan bahwa kesadaran masyarakat adalah kunci utama agar bencana ini tidak makin berlarut.
Warga diimbau keras untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Masyarakat yang melihat titik api atau kepulan asap diminta segera melapor ke petugas agar bisa langsung ditangani sebelum membesar.
Selain itu, warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah dan wajib menggunakan masker. Bagi para pengendara, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan mengingat jarak pandang yang terbatas rentan memicu kecelakaan lalu lintas. (su)