Malam Mencekam di Kota Besi, Api Membara Picu Kecemasan di Kandan-Camba

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:48:06 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Malam yang seharusnya menjadi waktu bagi warga untuk beristirahat justru berubah menjadi malam penuh kecemasan di kawasan Kandan-Camba, Kecamatan Kota Besi, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Apa pasal?

Kobaran api bergejolak dan kian membesar pada Senin 12 Oktober 2026 itu. Langit memerah akibat sejumlah kebun milik warga dilaporkan telah hangus terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung lebih dari sepekan itu belum juga berakhir. Api yang kembali membesar pada malam hari membuat warga semakin khawatir.

Setelah berhari-hari memantau kondisi kebakaran, masyarakat masih harus menghadapi kenyataan bahwa ancaman api belum benar-benar menjauh dari lahan mereka.

Di tengah gelapnya malam, kobaran api terlihat menyala di kawasan yang terbakar. Rekaman video yang beredar memperlihatkan besarnya api yang membakar lahan di Kandan-Camba.

Cahaya kemerahan dari kobaran tersebut menjadi gambaran betapa mengkhawatirkannya kondisi kebakaran yang masih berlangsung.

Bagi warga setempat, kebakaran ini bukan sekadar pemandangan api yang membakar hamparan lahan. Di balik kobaran tersebut, ada kebun yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Ketika api menjalar dan tanaman mulai hangus, kekhawatiran warga bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga nasib hasil kebun yang selama ini mereka andalkan.

Seorang warga setempat, Ari, menyampaikan kebakaran yang terus berlangsung membuat masyarakat semakin cemas. Terlebih, api kembali membesar ketika warga berharap kondisi di lokasi mulai membaik.

“Api tadi malam kembali membesar. Warga tentu khawatir karena kebakaran sudah berlangsung lebih dari seminggu, sementara sejumlah kebun masyarakat juga dilaporkan terbakar,” ujar Ari, Selasa 13 Oktober 2026.

Situasi tersebut membuat warga belum bisa merasa tenang. Selama api masih menyala, kemungkinan kebakaran meluas tetap menjadi kekhawatiran. Lahan yang belum tersentuh api pun masih berada dalam bayang-bayang ancaman, terlebih jika kobaran kembali membesar dan menjalar ke area di sekitarnya.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari kebun, kehilangan lahan berarti menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Tanaman yang terbakar tidak bisa begitu saja diganti dalam waktu singkat. Ada waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan untuk merawat kebun, sementara hasilnya menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika kebakaran datang, semua itu terancam hilang. Warga yang semula berharap dapat memetik hasil dari kebunnya justru harus menghadapi risiko kerugian. Jika api terus meluas, bukan tidak mungkin semakin banyak lahan masyarakat yang terdampak.

“Harapan warga, api segera bisa dipadamkan. Kami khawatir kalau terus membesar, kebun yang terdampak semakin banyak dan kerugian masyarakat juga bertambah,” tambah Ari.

Kecemasan itu semakin terasa ketika malam tiba. Dalam kondisi gelap, kobaran api yang membesar membuat situasi di sekitar lokasi tampak mencekam. Warga harus terus mengikuti perkembangan kebakaran, sementara kepastian kapan api benar-benar dapat dikendalikan belum diketahui.

Kebakaran yang berlangsung selama berhari-hari juga menjadi ujian bagi masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Mereka tidak hanya berhadapan dengan api yang belum padam, tetapi juga ketidakpastian mengenai seberapa luas lahan yang akan terdampak dan berapa besar kerugian yang mungkin harus ditanggung.

Informasi awal yang beredar menyebutkan luas lahan terdampak diperkirakan mencapai puluhan hektare. Namun, angka tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pendataan serta verifikasi dari petugas di lapangan. Begitu pula dengan jumlah kebun warga yang terbakar dan besaran kerugian yang dialami masyarakat.

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan itu, penanganan kebakaran menjadi hal yang sangat dinantikan warga. Mereka berharap upaya pemadaman tidak hanya mampu meredam kobaran yang terlihat, tetapi juga mencegah api kembali membesar dan menjalar ke lahan lain.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, petugas bersama Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, telah menuju lokasi kebakaran. Kehadiran unsur pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi penanganan dan membantu mempercepat upaya pengendalian api di kawasan Kandan-Camba.

Meski demikian, perkembangan terkini mengenai kondisi kebakaran, luas pasti lahan yang terbakar, serta hasil upaya pemadaman masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Penyebab kebakaran pun belum diketahui secara pasti sehingga perlu ditelusuri oleh pihak berwenang.

Bagi warga Kandan-Camba, setiap kobaran api yang kembali membesar membawa kecemasan baru. Di saat sebagian lahan telah terbakar, masyarakat hanya bisa berharap api tidak menjalar lebih jauh dan menghanguskan kebun lainnya.

Malam itu, langit yang memerah menjadi gambaran betapa beratnya ancaman karhutla yang masih mereka hadapi. Di balik cahaya api yang terlihat dari kejauhan, ada kekhawatiran warga tentang kebun, penghasilan, dan masa depan mata pencaharian mereka.

Warga kini berharap penanganan dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan. Sebab, semakin lama api tak terkendali, semakin besar pula risiko kerugian yang harus ditanggung masyarakat. Kandan-Camba membutuhkan penanganan segera agar kebakaran tidak terus meluas dan penderitaan warga tidak bertambah panjang. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top