KALAMANTHANA, Muara Teweh – Sungai Barito menjadi salah satu pintu masuk peredaran sabu-sabu di wilayah Barito Utara. Sejumlah fakta menarik soal itu terungka.
Satpolairud Polres Barito Utara melakukan gerakan jauhi narkoba di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito di Barito Utara, Kalimantan Tengah.
Beragam kampanye menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) disampaikan Satpolairud Polres Barito Utara. Salah satunya, kampanye gerakan antinarkoba.
Dalam sosialisasi itu, Satpolairud membentangkan spanduk bertuliskan “Jauhi Narkoba, Selamatkan Generasi Bangsa” pada Jumat 29 Mei 2026.
DAS Barito di wilayah Kabupaten Barito Utara menjadi salah satu pintu masuk dan jalur favorit penyelundupan sabu-sabu karena kombinasi faktor geografis, ekonomi, dan minimnya pengawasan.
Kenapa Sungai Barito menjadi salah satu pintu menarik masuknya sabu-sabu di Barito Utara? Empat fakta menarik ini mengungkapnya.
1.Konektivitas Tanpa Batas
Sungai Barito membelah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sabu dari bandar besar di luar pulau biasanya masuk lewat pelabuhan besar di Banjarmasin.
Dari Banjarmasin, sabu-sabu itu lalu didistribusikan ke hulu. Salah satunya ke Barito Utara dengan menggunakan jalur sungai.
2.Kamuflase Kapal Industri
Sungai ini dipenuhi lalu lintas kapal tongkang batu bara, kapal kayu, dan tugboat logistik. Dia menjadi salah satu sarana transportasi penting menggunakan sungai.
Pengedar biasanya memanfaatkan kepadatan ini untuk menyisipkan paket sabu-sabu di antara muatan kapal guna mengelabui petugas.
3.Banyaknya Dermaga Tikus
Di sepanjang pinggiran Sungai Barito wilayah Barito Utara terdapat ratusan dermaga rakyat kecil (dermaga tikus) yang tidak resmi.
Tempat-tempat ini tersembunyi, minim penerangan di malam hari, dan tidak dijaga oleh aparat keamanan.
4.Kemudahan Transit
Pengedar menggunakan perahu kecil (kelotok) untuk mengambil sabu dari kapal besar di tengah sungai.
Mereka lalu bersandar di dermaga tikus ini pada dini hari. Biasanya antara pukul 23.00 hingga 04.00 WIB untuk transaksi cepat sebelum lalu lintas ramai dan pengawan lebih ketat.
5.Tingginya Permintaan (Market) di Sektor Pekerja
Barito Utara kaya akan industri pertambangan batu bara dan perkebunan sawit.
Banyak pekerja lapangan, anak buah kapal (ABK), dan buruh logistik mengonsumsi sabu dengan alasan keliru untuk "menambah stamina" kerja berat.
Kesempatan ekonomi dan daya beli pekerja yang tinggi ini menciptakan pasar yang sangat menguntungkan bagi bandar narkoba.
6.Tantangan Geografis bagi Aparat Hukum
Cakupan Wilayah yang Luas: Panjangnya aliran Sungai Barito yang membelah pedalaman Kalimantan menyulitkan Satpolairud melakukan patroli 24 jam penuh di setiap titik.
Ini menjadi tantangan geografis sendiri bagi aparat hukum untuk melakukan penertiban peredaran sabu-sabu.
7.Akses Darat Terbatas
Banyak desa pesisir (seperti Jangkang Baru atau wilayah pelosok Montallat) yang lebih mudah diakses lewat air daripada darat.
Hal ini memberi waktu bagi pelaku untuk melarikan diri lewat sungai saat mencium kedatangan polisi dari jalur darat. (*)