Kisah Istri Awak Mobil Tangki Elnusa Petrofin: Sulap Tempoyak Jambi Jadi Omzet Rp10 Juta

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 17:48:00 WIB
PT Elnusa Petrofin kembali membuktikan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui program CSR UMKM Academy. Salah satu kisah suksesnya datang dari Kelurahan Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. (ist)

KALAMANTHANA, Palangka Raya - Thiur Maita Lubis tidak pernah membayangkan bahwa tempoyak, yakni fermentasi durian yang selama ini hanya menjadi pelengkap masakan tradisional Jambi, akan membawanya ke 12 toko oleh-oleh dan menghasilkan omzet Rp10 juta setiap bulan.

Ia adalah istri dari seorang Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin di wilayah operasi Jambi.

Thiur paham, profesi pasangan hidupnya bagi banyak keluarga berarti sang suami lebih banyak menghabiskan waktu di jalan daripada di rumah. Thiur memilih mengisi waktu itu dengan berkreasi. Dan ketika PT Elnusa Petrofin datang dengan program CSR UMKM Academy, kreativitasnya menemukan landasan yang lebih kokoh.

Aksena Snack, merek camilan tempoyak buatannya, kini bukan sekadar usaha rumahan. Produknya sudah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Semu aitu bukan karena Thiur tahu betul seluk-beluk prosedur birokrasi, melainkan karena program CSR EPN memandunya.

Elnusa Petrofin menjembatani dengan pelatihan branding, pengemasan, dan strategi pemasaran yang diberikan dalam program UMKM Academy. Thiur belajar, tempoyak bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal narasi alias cerita di balik produk yang membuat orang mau membeli dan membawa pulang sebagai oleh-oleh dari Jambi.

Yang membuat kisah Aksena Snack lebih dari sekadar kisah sukses individu adalah dimensi sosialnya. Thiur tidak berhenti di keberhasilannya sendiri. Ia membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar rumahnya dan aktif berbagi ilmu dengan kelompok PKK setempat.

Sebuah lingkaran ekonomi kecil terbentuk, bermula dari seorang perempuan yang mendapat ruang untuk berkembang. Kegiatan ini mendukung SDGs poin 1 (Tanpa Kemiskinan), poin 5 (Kesetaraan Gender), dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Artinya, bukan sebagai daftar periksa laporan CSR, melainkan sebagai dampak yang bisa dirasakan langsung di tingkat rumah tangga.

Kisah serupa terjadi di Provinsi Riau, di mana EPN melalui unit operasi Integrated Terminal (IT) Dumai membina kelompok pengrajin tenun tradisional di Pulau Bungkuk, Kota Dumai, sejak 2022.

Lima ibu rumah tangga lokal yang sebelumnya hanya menenun untuk kebutuhan sendiri atau dijual secara sporadis kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta per bulan dari kain tenun khas Kota Dumai.

Program pendampingan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya local, karena kain tenun tradisional yang terancam punah akibat minimnya regenerasi pengrajin. Langkah ini juga membuka ruang ekonomi bagi perempuan pesisir yang selama ini termarjinalkan dari arus ekonomi formal.

Paralel dengan program ini, unit operasi Fuel Terminal (FT) Tembilahan di Kabupaten Indragiri Hilir menginisiasi program Posyandu Home Care sejak 2023. Program ini berupa pendampingan kapasitas kader posyandu di KM 3 Sungai Gantang.

Kabupaten Indragiri Hilir adalah salah satu lokasi intervensi khusus penanganan stunting dalam agenda Pemerintah Provinsi Riau.

Program ini menempatkan EPN bukan hanya sebagai donatur, tetapi sebagai mitra strategis dalam ekosistem kesehatan masyarakat berbasis komunitas. Ini menjadi sebuah peran yang jauh lebih bermakna dan berkelanjutan dibandingkan pemberian bantuan satu kali.

Satu di antara catatan dari langkah menarik ini, sebagian besar penerima manfaat langsung dari program UMKM Academy EPN adalah perempuan: istri AMT, ibu rumah tangga, anggota PKK. Ini bukan kebetulan. Dalam konteks perusahaan distribusi energi yang armadanya didominasi pengemudi laki-laki, program pemberdayaan perempuan menjadi semacam penyeimbang.

Lebih jauh lagi, ini jadi sebuah pengakuan bahwa keluarga para pekerja adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem bisnis perusahaan. Ketika istri seorang pengemudi tangki menjadi pengusaha snack yang sukses, stabilitas keluarga meningkat, dan secara tidak langsung produktivitas sang pengemudi pun terjaga.

Dari perspektif yang lebih luas, pendekatan EPN dalam pemberdayaan UMKM juga mencerminkan pemahaman tentang pembangunan ekonomi yang inklusif. Program UMKM Academy bukan sekadar pemberian modal atau pelatihan teknis.

Semua itu tentang membangun ekosistem: akses pasar melalui jaringan toko, perlindungan hukum melalui pendaftaran HAKI, dan kapasitas manajerial melalui pelatihan branding dan pemasaran. Tanpa salah satu dari elemen ini, usaha kecil akan stagnan atau bahkan gagal setelah program pendampingan berakhir.

Satu yang perlu mendapat perhatian adalah bukan hanya besarnya angka penerima manfaat, melainkan pendekatan yang diambil: EPN memprioritaskan wilayah ring-1 operasional. Mereka adalah komunitas yang paling langsung merasakan dampak kehadiran armada tangki di lingkunga. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang kontekstual, bukan generik.

Ketika sebuah perusahaan energi mengakui bahwa kehadirannya di suatu wilayah menciptakan kewajiban sosial, bukan hanya peluang bisnis, maka relasi antara korporasi dan masyarakat bergerak menuju sesuatu yang lebih setara dan bermartabat. (Anigoru)
 

Reporter: Redaksi
Back to top