KALAMANTHANA, Sampit – Hamparan kabut putih yang menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada Selasa pagi (23/6/2026) sempat membuat warga khawatir.
Di tengah meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta cuaca panas yang melanda wilayah Kotawaringin Timur, kabut yang muncul sejak subuh itu awalnya dikira sebagai asap kebakaran.
Fenomena tersebut terlihat cukup jelas, salah satunya terlihat di kawasan Terowongan Nur Mentaya, Kecamatan Baamang.
Kabut putih menutupi sebagian ruas jalan dan permukiman warga sehingga jarak pandang pengendara menjadi terbatas. Dari kejauhan, kondisi itu menyerupai kabut asap tipis yang biasa muncul saat terjadi kebakaran lahan.
Salah seorang warga Kelurahan Baamang, Sari, mengaku sempat panik ketika melihat kondisi lingkungan di sekitar rumahnya pada pagi hari.
Ia mengira kabut putih yang menyelimuti kawasan tersebut merupakan asap karhutla karena beberapa hari terakhir masyarakat banyak menerima informasi terkait kebakaran lahan di sejumlah titik di Kotim.
"Awalnya saya kira asap kebakaran karena memang belakangan ini sering dengar ada karhutla. Ternyata setelah matahari mulai terang baru terlihat kalau itu embun tebal," ujar Sari.
Menurutnya, kabut mulai terlihat sejak sekitar pukul 05.30 WIB dan masih bertahan hingga lebih dari pukul 06.00 WIB. Kondisi tersebut membuat jarak pandang pengguna jalan menjadi cukup terbatas sehingga pengendara harus lebih berhati-hati saat melintas.
"Kalau dari jauh memang mirip asap. Pengendara juga banyak yang pelan-pelan karena pandangan tidak begitu jelas," katanya.
Fenomena embun tebal ini terjadi di tengah cuaca panas yang melanda Sampit dalam beberapa hari terakhir. Pada siang hari, suhu udara terasa lebih terik dari biasanya, sementara hujan mulai jarang turun. Kondisi tersebut turut meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman karhutla yang sering terjadi saat memasuki musim kemarau.
Meski demikian, kabut yang muncul pada pagi hari itu dipastikan bukan berasal dari kebakaran lahan.
Embun atau kabut pagi merupakan fenomena alam yang terjadi akibat tingginya kelembapan udara pada malam hingga dini hari. Ketika suhu udara menurun, uap air di atmosfer mengalami kondensasi dan membentuk butiran air halus yang tampak seperti kabut.
Kemunculan embun tebal yang menyerupai asap menunjukkan tingginya sensitivitas masyarakat terhadap potensi bencana kabut asap.
Pengalaman menghadapi karhutla pada tahun-tahun sebelumnya membuat warga lebih waspada terhadap setiap perubahan kondisi udara, terutama saat musim kemarau mulai berlangsung.
Warga berharap upaya pencegahan karhutla terus diperkuat oleh pemerintah, aparat, perusahaan, dan masyarakat. Dengan langkah antisipasi yang maksimal, ancaman kebakaran lahan dan kabut asap di Kabupaten Kotawaringin Timur diharapkan dapat ditekan sehingga tidak mengganggu kesehatan maupun aktivitas masyarakat. (su)