KALAMANTHANA, Sampit – Aktivitas balap liar yang berlangsung hingga menjelang subuh di kawasan Taman Kota Sampit, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, kembali menjadi keluhan masyarakat.
Deru knalpot bersuara keras yang hampir setiap malam terdengar di sepanjang Jalan kawasan itu, terumata di Jalan Yos Sudarso, dinilai telah mengganggu ketenangan warga, termasuk pasien yang sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan yang berada tidak jauh dari lokasi.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Don Bosco Sampit, Yohanes Kopong Tuan MSF. Menurutnya, aksi balap liar bukan lagi persoalan kebisingan semata, tetapi sudah mengganggu hak masyarakat untuk beristirahat dan menciptakan rasa tidak nyaman di lingkungan sekitar Taman Kota.
Di kawasan tersebut terdapat Klinik Utama Terpadu Katolik OBOR yang setiap hari melayani pasien. Kebisingan suara knalpot dari kendaraan yang dipacu dengan kecepatan tinggi hingga dini hari disebut membuat pasien kesulitan memperoleh waktu istirahat yang cukup. Hal serupa juga dirasakan penghuni pastoran yang berada berdekatan dengan lokasi.
Pastor Kopong menilai aktivitas tersebut terus berulang karena belum adanya penertiban yang dilakukan secara konsisten. Menurutnya, aparat maupun instansi terkait seharusnya mampu mencegah balap liar mengingat suara kendaraan yang sangat bising mudah terdengar dari berbagai penjuru kawasan kota.
"Komentar saya bahwa polisi dalam hal ini Satlantas dan Dinas Perhubungan lalai dalam menjalankan tugas mereka. Ada pembiaran yang dilakukan. Masa mereka tidak mendengar suara motor racing yang demikian keras," kata Pastor Kopong, Sabtu (11/7/2026).
Ia mengatakan dampak balap liar dirasakan langsung setiap malam. Warga yang hendak beristirahat harus menunggu hingga aktivitas balapan berakhir, sementara pasien di klinik juga kehilangan suasana tenang yang dibutuhkan selama menjalani perawatan.
Menurutnya, masyarakat hanya menginginkan lingkungan yang aman dan nyaman tanpa terganggu kebisingan kendaraan yang digunakan untuk balapan di jalan umum.
"Sangat mengganggu karena kalau kami di pastoran hanya baru bisa tidur sekitar pukul 04.00 subuh. Demikian juga para pasien. Masyarakat butuh istirahat setelah seharian bekerja. Dan sekali lagi Pemkab Kotim juga gagal melaksanakan kesepakatan bersama bahwa Taman Kota tidak lagi digunakan sebagai tempat balapan apa pun," ujarnya.
Pastor Kopong juga mengungkapkan warga berharap aparat melakukan patroli dan penertiban secara rutin agar balap liar tidak kembali berlangsung setelah petugas meninggalkan lokasi. Menurutnya, penindakan yang hanya sesekali dilakukan belum memberikan efek jera kepada para pelaku.
Selain itu, ia menilai peran keluarga juga sangat penting dalam mencegah remaja terlibat balap liar yang dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Pengawasan orang tua dinilai menjadi salah satu langkah awal untuk mengurangi maraknya aksi tersebut.
Balap liar di kawasan Taman Kota Sampit sendiri telah berulang kali menjadi perhatian masyarakat. Selain menimbulkan kebisingan hingga dini hari, aktivitas tersebut juga berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas karena menggunakan jalan umum sebagai arena balapan.
Masyarakat berharap aparat kepolisian, Dinas Perhubungan, serta pemerintah daerah dapat mengambil langkah yang lebih tegas dan berkelanjutan sehingga kawasan Taman Kota kembali menjadi ruang publik yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh warga. (sly)