Diterima Paus Leo XIV: Patung St. Yusuf Arimatea, Mukjizat untuk Niko

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:36:07 WIB
Patung Yusuf Arimatea diterima oleh Paus Leo XIV dalam audiensi, Rabu (25/03/2026).

KALAMANTHANA, Yogyakarta – “Jika papa masih hidup, ia pasti sangat terharu karena patung buatan Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV.  Sebenarnya ini keinginan papa lama, patungnya diterima Paus. Namun keinginan itu dipahami sulit untuk diwujudkan”

Demikian petikan obrolan dengan Niko Harahap Tanubrata pemilik Brata Gallery, Yogyakarta. Ia meneruskan jejak almarhum sang papa.

“Dan, (patung) St. Yusuf Arimatea ini merupakan pemenuhan keinginan papa, Meski tidak mengharapkan apa-apa menyusul patung diterima Paus Leo XIV, faktanya setelah itu, ada peristiwa luar biasa terjadi,” kata Niko.

Saat diwawancarai pada awal Mei 2026, Niko didampingi Rosalinda Widjajanto, stafnya yang bertanggung jawab langsung atas pembuatan patung St Yusuf Arimatea. Niko mengaku dan sekaligus menyadari, pemesanan dan pembuatan St Yusuf  Arimatea merupakan misteri bagi dirinya.

Yusuf Arimatea adalah tokoh di balik pemakaman secara terhormat bagi Yesus Kristus yang wafat di kayu salib. Ia adalah orang berpengaruh, pengusaha kaya raya, anggota Majelis Besar Mahkamah Yahudi Sanhedrin dan sekaligus murid rahasia Yesus.

Ia mempersembahkan pemakaman keluarga yang baru dibangunnya sebagai tempat pemakaman Yesus. Hari peringatan St Yusuf Arimatea jatuh tiap 31 Agustus.

Dengan terus terang ia mengaku, baru pertama kali membuat patung Yusuf Arimatea selama Brata Gallery berdiri. Patung itu didesain dan dipesan oleh AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).  Menyusul diterimanya patung oleh Paus Leo XIV, dirinya mendapat order istimewa dari seseorang dari Bandung.

Pemesanan tersebut adalah yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah hidup galerinya. Niko diminta  membuat patung serial jalan salib dengan jumlah stasi 14, seperti pada umumnya. Hanya istimewanya, masing-masing stasi hanya terdiri dua tokoh dengan tinggi 180 cm.

Meski demikian, anehnya, si pemesan menyetujui ketika Niko mengusulkan tambahan satu tokoh lagi pada stasi ketigabelas, yang dalam tradisi Jalan Salib adalah adegan pieta, Bunda Maria memangku jenasah Yesus (pieta). Artinya, dalam stasi ketigabelas itu ada tiga tokoh.

TERKEJUT

Dalam audiensi pada 25 Maret 2026, delapan orang membawa patung Yusuf Arimatea dari Indonesia dan dipersembahkan kepada Paus Leo XIV. Mereka adalah, AM. Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera, yang kelimanya adalah delegasi PWKI.

Sementara dua lainnya dari delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yakni Mgr Agustinus ’Didik” Tri Budi Utomo (Ketua Komisi Komunikasi Sosial / Komsos) dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo (Sekretaris Komisi Komsos). Yang terakhir adalah Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia, yang menjadi pendamping rombongan.

Baik Niko dan Linda mengaku sangat terkejut ketika banyak media memberitakan penyerahan patung Yusuf Arimatea tersebut. Keduanya tidak pernah menduga bahwa patung yang mereka buat akan diterima langsung oleh Paus Leo XIV.

Menurut cerita Niko, pada bulan Agustus 2025 ia menerima pesanan dari Putut Prabantoro untuk membuat patung Yusuf Arimatea. “Waktu itu saya gak ngebayangin. Tahunya hanya dibawa ke Vatikan. Kalau akhirnya bisa diterima Paus, ya berkah luar biasa untuk saya. Kaget karena tidak mengira patung itu diterima Paus Leo. Saya tahunya cuma mau dibawa ke Vatikan, dan saya pikir, mungkin untuk museum. Saya happy banget, patung bisa masuk ke Vatikan dan diterima langsung Paus Leo,” ujar Niko.

Linda pun mengaku tidak menyangka sama sekali. “Waktu proses packing dan bikin video cara bongkarnya bagaimana, saya masih belum ngeh kalau patung itu bakal sampai ke tangan Paus. Ngertinya cuma sampai Vatikan, mungkin ada acara apa gitu. Setelah lihat beritanya, wow diterima Paus Leo,” ucap Linda yang mengaku peristiwa itu mengingatkan dirinya pada satu ayat dalam Kitab Suci.

“Saya seperti diingatkan satu ayat kira-kira bunyinya begini: apa yang tidak pernah terlintas di hati kita, justru itu akan diberikan kepada kita,” tambah Linda, yang beragama Kristen Protestan.

Demikian pula kepada karyawan atau pekerja di tokonya. Niko tidak memberitahukan bahwa patung itu bakal diberikan ke Paus Leo, tetapi hanya dibawa ke Vatikan saja.

“Saya mengira mungkin dibawa ke museum, karena patung bunda Maria Segala Suku bikinan kami juga dikirim ke museum Vatikan. Maka begitu diterima Paus Leo, beritanya saya share ke grup toko, dan IG. Semua heboh, terus banyak orang tanya langsung apakah patung itu juga dijual?” ungkap Niko, seraya tersenyum.

JADI BERKAT

Terkait dengan pesanan patung serial jalan salib dari Bandung, Niko menegaskan untuk kali pertama, seseorang memesan patung serial jalan salib dengan tinggi 180 cm. Dan, patung itu serial bukan hanya satu saja.

“Orang tersebut memesan setiap stasi hanya ada dua sosok. Saya usul saat pieta dan Yesus diturunkan oleh Yusuf Arimatea itu ditambah satu dan dia pun setuju. Apakah ini menandakan bagian dari kisah diterima patung Yusuf Arimatea oleh Paus Leo, saya gak tau. Tapi orang itu saya kirimin juga beritanya, dan dia setuju,” ujarnya.

Niko menambahkan bahwa orang tersebut membuat patung jalan salib untuk rumah pribadi. “Dia mau beda, tidak ada Ponsius Pilatus. Dan dia sudah membayar DP. Mungkin ini jalan Tuhan,” ucap Niko, yang memanfaatkan AI saat mencari sosok yang pas untuk patungnya.

TANPA REFERENSI

Niko mengungkapkan pembuatan patung Yusuf Arimatea mempunyai tantangan tersendiri. Selama ini ia telah membuat ratusan bahkan ribuan patung namun yang itu-itu saja. Seputar Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, bayi Yesus, Tiga Raja, dan sosok-sosok dalam Kitab Suci yang umum.

“Waktu itu bulan Agustus pak Putut cuma omong, coba cari patung Yusuf Arimatea. Tapi gak ada referensi. Terus dia menggambarkan patung itu, saya bikin sketnya juga secara asal. Pak Putut kemudian menjelaskan ekspresinya, saya waktu itu juga bingung. Krn itu saya usul langsung eksekusi saja, diterapkan dalam tanah liat. Terus proses, trial dan error. Saya panggil pak Putut begini pak hasilnya. Pak Putut mengritisi dan saya ubah lagi. Sekitar 5-6 kali lah perubahannya,” beber Niko.

Menurutnya, kesulitan muncul karena pertama, tidak ada refensi patung yang sudah jadi. Kedua, melibatkan tiga pihak. “Pak Wid (Lambertus Widiantoro, kakak Putut –red) yang mendapat penampakan, pak Putut yang diminta untuk membuat dan sekaligus menerjemahkan, dan saya yang mengeksekusi. Biasanya klien langsung ke saya. Saya ribuan kali membuat patung. Namun Yusuf Arimatea ya baru pertama kali ini. Dan, kami gak paham siapa dia itu. Biasanya kami cuma bikin santo santa, Maria, Yusuf, atau Yesus, kebanyakan seperti itu,” jelasnya.  

Hal yang sama dialami Linda, sebagai penggambar. “Jujur saya juga baru kenal sosok Yusuf Arimatea karena ikut membuat patung itu. Niko bilang tolong digambarkan berdasarkan sket dari Pak Putut. Ternyata sosok Yusuf Arimatea ini keren dan perannya sangat besar. Yang bikin saya terharu itu, sosok semulia itu hatinya kok dia tidak mau diangkat,” ujarnya.  

Putut Prabantoro mengaku dirinya diminta untuk membawa patung Yusuf Arimatea dan menyerahkannya ke Paus . Itu terjadi pada bulan Juli 2025, setelah kakaknya Lambertus Widiantoro mendapat vision. Segera ia mencari patung Yusuf Arimatea dan menghubungi banyak pematung di berbagai kota di Indonesia

“Semuanya minta model atau contoh patung. Saya juga meminta bantuan Rm Antonius Suherman Pr dari Keuskupan Tanjungkarang dan juga Sr Fransiska CP di Roma. Semuanya nihil, tidak ada patung. Setelah kembali dari Vatikan pada Agustus 2025, saya kemudian menghubungi Niko dengan pesan Oktober patung harus selesai karena akan dibawa ke Vatikan pada November 2025. Namun rencana inipun gagal, ” tandas Putut.

Namun Tuhan menghendaki lain. Pada akhirnya di tengah berkecamuknya perang Timur Tengah, patung Yusuf Arimatea itu dibawa ke Vatikan dan diserahkan langsung kepada Paus Leo pada Rabu, 25 Maret 2026.

“Penentuan tanggalnyapun ditentukan oleh Mgr Didik, meski Mgr Didik baru tahu kalau ada patung sesaat  sebelum berangkat ke Roma pada 23 Maret 2026. PWKI dan KWI berangkat ke Vatikan  sebenarnya dalam rangka penandatanganan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan,” ujar Putut.

Menutup perbincangan siang itu, Niko mengungkapkan hasrat terpendamnya. Menyusul patung Yusuf Arifmatea buatannya sampai Vatikan dan diterima langsung Paus Leo, membuat Niko dan Linda jadi ingin bisa berkunjung ke Vatikan.

“Saya mau banget ke Vatikan apalagi ketemu Paus. Waktu Paus Fransiskus ke Jakarta saja kami tidak dapat. Padahal patung Maria Bunda Segala Suku yang ada di dekat altar saat Misa Kudus di GBK itu buatan kami,” jelasnya.

“Mau banget lah bisa ke Vatikan apalagi jika bisa ketemu Paus Leo. Saya dan Linda tentunya juga mau,” seru Niko, yang langsung diamini oleh Linda seraya tersenyum. (*)

Reporter: Redaksi
Back to top