KALAMANTHANA, Jakarta – Presiden FIFA menarik kembali proposal FIFA Forward Enterprise. Ketua Umum PSSI Erick Thohir dilepeh Gianni Infanito?
Presiden FIFA, Gianni Infanito memutuskan membatalkan proposal yang antara lain membuka peluang penjualan saham penyelenggaraan Piala Dunia kepada pihak swasta. Erick Thohir menyatakan dukungannya.
Padahal, di dunia internasional, rencana Presiden FIFA Gianni Infanito itu mendapat penolakan hampir dari seluruh anggotanya. Tak banyak yang mendukung, salah satunya Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI.
Usulan tersebut sebelumnya memicu perdebatan di kalangan sepak bola internasional. Sejumlah asosiasi anggota, konfederasi, serta berbagai pemangku kepentingan menyampaikan keberatan karena menilai proyek itu berpotensi mengubah tata kelola dan kepemilikan aset-aset komersial FIFA.
FIFA menjelaskan bahwa sejak awal pelaksanaan proyek FFE bergantung pada dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggotanya. Selain itu, setiap langkah dalam proses pembahasannya harus melalui konsultasi dengan Dewan FIFA, konfederasi, serta para pemangku kepentingan lainnya guna memastikan setiap keputusan mencerminkan kepentingan bersama komunitas sepak bola dunia.
Setelah mendengarkan berbagai pandangan yang berkembang selama proses konsultasi, FIFA menyimpulkan bahwa proyek tersebut telah menimbulkan perbedaan sikap yang cukup tajam di antara para anggotanya.
Terlepas dari adanya dukungan terhadap sejumlah aspek proposal, FIFA menilai kondisi tersebut tidak lagi sejalan dengan tujuan awal proyek yang mengedepankan kemajuan sepak bola global melalui semangat kebersamaan.
Sebelumnya, pada Jumat lalu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkap alasan dukungan kepada FIFA terkait polemik proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang memuat rencana penjualan saham turnamen Piala Dunia kepada swasta.
"Sepak bola kita bisa meraih banyak prestasi seperti sekarang karena masyarakat, pemerintah, dan FIFA hadir bersama-sama. Kita harus berterima kasih, terutama kepada FIFA," kata Erick Tohir kepada awak media di Jakarta, Jumat.
Dia mengingatkan kembali dukungan FIFA terhadap Indonesia dalam kasus tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Indonesia berpotensi menghadapi sanksi berat apabila tidak terjalin kesepahaman dengan FIFA. Menurutnya, dukungan pemerintah, masyarakat, dan komunikasi dengan FIFA menjadi faktor penting sehingga sepak bola Indonesia dapat terus berjalan.
"Kalau tidak ada kesepakatan saat itu, hari itu kita mungkin tidak memiliki tim nasional maupun kompetisi sepak bola seperti sekarang," ujarnya.
Erick juga menjelaskan keseriusan FIFA dalam membantu pengembangan sepak bola Indonesia. Salah satunya, pembukaan kantor FIFA di Indonesia dan investasi untuk berbagai program pengembangan sepak bola setiap tahun.
FIFA, kata dia, menggelar sebanyak 13-15 kegiatan setiap tahun di Indonesia sekira 1-2 juta dolar AS yang langsung mereka salurkan langsung untuk kegiatan tersebut. (*)