Pemkab Kotim Perkuat Kolaborasi Hadapi Karhutla, Masyarakat Diminta Aktif Mengawasi

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:44:37 WIB
Bupati Kotim Halikinnor beserta jajaran yang turun ke lapangan memantau kondisi sekaligus mendampingi personel dalam upaya pemadaman.

KALAMANTHANA, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Penanganan dilakukan bersama TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), serta masyarakat.

Keseriusan Pemkab Kotim terlihat dari keterlibatan langsung Bupati Kotim Halikinnor beserta jajaran yang turun ke lapangan memantau kondisi sekaligus mendampingi personel dalam upaya pemadaman.

Halikinnor mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama karena kondisi di lapangan cukup berat. Petugas dari berbagai unsur telah berjibaku sejak siang hingga malam untuk mengendalikan api.

“Dari TNI, Polri dan juga pihak lainnya sudah berjibaku siang sampai malam. Tapi memang kita juga minta bantuan masyarakat untuk memonitor lingkungan masing-masing,” kata Halikinnor, Jum'at (21/8/2026).

Untuk memperkuat dukungan kepada petugas pemadam, Pemkab Kotim juga mengerahkan seluruh OPD. Setiap OPD diminta menyiapkan armada tangki untuk membantu menyuplai air ke lokasi pemadaman.

Halikinnor menjelaskan, pola tersebut membuat armada pemadam dapat lebih fokus melakukan penyemprotan, sementara kebutuhan air dibantu armada tangki dari OPD.

“Semua organisasi perangkat daerah ini kita kerahkan. Setiap OPD mengirimkan satu armada tangki untuk membantu menyuplai air kepada pemadam. Jadi mobil pemadam ini tidak bergerak, dia hanya menembak,” jelasnya.

Menurut Halikinnor, dukungan lintas OPD tersebut telah berjalan selama beberapa hari. Ia mengapresiasi seluruh perangkat daerah yang ikut bergerak membantu penanganan karhutla.

“Saya setiap hari memantau langsung. Saya berterima kasih juga semua OPD bergerak,” ujarnya.

Meski demikian, kondisi di lapangan masih menghadirkan tantangan. Cuaca panas dan angin yang cukup kuat membuat api berpotensi cepat menyebar. Di sisi lain, ketersediaan air untuk pemadaman semakin terbatas karena sejumlah embung dan sumber air mulai mengering.

“Karena panas ini, air juga kering. Hanya ada beberapa titik yang bisa kita mengambil airnya,” kata Halikinnor.

Selain memperkuat pemadaman, Pemkab Kotim juga mendorong pengawasan bersama untuk mencegah munculnya titik api baru. Halikinnor meminta masyarakat aktif memantau kondisi lingkungan masing-masing dan segera melaporkan apabila menemukan aktivitas pembakaran yang mencurigakan.

Imbauan tersebut disampaikan karena sejumlah titik api kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dipadamkan. Menurutnya, kondisi itu bisa saja dipengaruhi angin, tetapi kemungkinan adanya pembakaran yang disengaja juga perlu diwaspadai.

“Kalau menemukan yang sengaja membakar, tolong dilaporkan kepada aparat penegak hukum. Karena kita siang malam memadamkan ini, tapi api muncul terus di mana-mana,” tegasnya.

Halikinnor menilai masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Jika menemukan titik api yang masih kecil di sekitar lingkungan, masyarakat diminta segera mengambil langkah pemadaman dengan tetap memperhatikan keselamatan.

“Kalau ada mulai titik api kecil, segera dipadamkan dulu. Mumpung masih kecil, itu kan dia tidak melebar,” imbaunya.

Pemkab Kotim juga memprioritaskan perlindungan kawasan permukiman. Upaya pemadaman diarahkan untuk mencegah api mendekati rumah dan fasilitas masyarakat.

“Kita mengutamakan untuk pemadaman di dalam permukiman, lingkungan pemukiman. Kita menjaga rumah-rumah masyarakat,” ujar Halikinnor.

Selain penanganan di lapangan, pemerintah daerah mengambil langkah perlindungan terhadap masyarakat dari dampak kabut asap. Seiring kondisi kualitas udara yang menurun, Pemkab Kotim mengeluarkan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) bagi peserta didik.

Halikinnor menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti aktivitas pendidikan dihentikan. Siswa tetap mengikuti pembelajaran dari rumah sampai kondisi udara kembali membaik.

“Jadi bukan libur, tidak belajar. Belajar di rumah dulu sementara ini sampai kita lihat situasi dan kondisi ini bisa membaik,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum sehat. Warga yang tidak memiliki keperluan penting diminta tetap berada di rumah untuk mengurangi risiko terpapar kabut asap.

“Kalau tidak penting ya jangan keluar rumah. Kita mengurangi aktivitas di luar rumah sementara ini,” pungkasnya.

Kolaborasi antara Pemkab Kotim, TNI, Polri, OPD dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi karhutla. Dengan keterlibatan seluruh unsur, pemerintah berharap pemadaman dapat dilakukan lebih cepat, titik api baru dapat dicegah, serta masyarakat dan kawasan permukiman tetap terlindungi. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top