Seranau Jadi Titik Terparah Karhutla Kotim, 703,5 Hektare Lahan Hangus

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 17:25:32 WIB
Kebakaran lahan di Kotim

KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin mengkhawatirkan. Dari total 1.412,14 hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026, lebih dari separuhnya berada di Kecamatan Seranau.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 21 Agustus 2026 mencatat luas lahan terbakar di Seranau mencapai 703,5 hektare. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan 17 kecamatan lainnya.

Besarnya luasan kebakaran di Seranau menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa satu kawasan dapat menyumbang porsi sangat besar terhadap total kerusakan lahan di Kotim. Data sebelumnya juga menunjukkan Seranau menjadi wilayah dengan luasan karhutla paling dominan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi karhutla masih dinamis. Api masih ditemukan di sejumlah wilayah sehingga petugas harus terus melakukan penanganan dan pemantauan.

“Karhutla di Kotim memang terus meluas. Kondisi di lapangan masih dinamis karena titik kebakaran masih ditemukan di sejumlah wilayah,” kata Multazam.

Di bawah Seranau, luasan karhutla terbesar tercatat di Mentawa Baru Ketapang sebesar 250,20 hektare dan Baamang 139,66 hektare. Selanjutnya Mentaya Hilir Utara 83,20 hektare, Pulau Hanaut 82,65 hektare dan Parenggean 58,5 hektare.

Jika dibandingkan dengan jumlah kejadian, kondisi Seranau menunjukkan persoalan yang berbeda. Sementara Mentawa Baru Ketapang tercatat menangani 180 kejadian dan Baamang 171 kejadian, Seranau justru menjadi kawasan dengan luasan terbakar paling besar.

Artinya, persoalan karhutla di Kotim bukan hanya soal seberapa sering api muncul, tetapi juga seberapa luas kebakaran dapat berkembang ketika terjadi di suatu kawasan.

Secara keseluruhan, BPBD Kotim telah menangani 420 kejadian karhutla sepanjang 2026. Bersamaan dengan itu, jumlah hotspot juga terus meningkat. Hingga 21 Agustus, tercatat 6.279 hotspot sepanjang tahun berjalan.

Multazam mengatakan tantangan terbesar berada pada lokasi yang sulit dijangkau. Api yang belum sepenuhnya terkendali juga berpotensi kembali muncul dan menjalar ke kawasan lain.

“Yang menjadi tantangan adalah api masih bisa muncul dan menjalar, sementara beberapa lokasi cukup jauh dan akses menuju titik kebakaran tidak mudah. Karena itu, penanganan harus dilakukan secara cepat dan bersama-sama,” ujarnya.

Kondisi ini membuat penanganan tidak bisa hanya mengejar titik api yang terlihat. Petugas juga harus melakukan penyekatan agar api tidak terus meluas, terutama di wilayah yang memiliki hamparan lahan terbakar cukup besar.

BPBD bersama unsur gabungan masih melakukan pemadaman, pemantauan dan penyekatan di sejumlah lokasi. Kawasan yang berpotensi mendekati permukiman menjadi perhatian karena rambatan api dapat meningkatkan risiko terhadap masyarakat.

Masyarakat diminta tidak menganggap remeh kemunculan api sekecil apa pun. Laporan cepat diperlukan agar kebakaran dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kejadian dengan luasan besar.

Dengan luas lahan terbakar yang kini menembus 1.412 hektare dan ratusan kejadian sepanjang tahun, karhutla Kotim menunjukkan bahwa ancaman kebakaran belum mereda. Seranau menjadi gambaran paling nyata bagaimana satu kawasan dapat mengalami kerusakan lahan dalam skala sangat besar. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top