Dua Hari Dua Malam Tak Bisa Tidur, Warga Cempaga Bertahan Demi Menyelamatkan Lahan

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:24:59 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Nasib warga di Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, memprihatinkan. Di tengah karhutla, masyarakat harus berjibaku siang-malam menghadapi kobaran api.

Karhutla yang pertama kali muncul sejak Minggu 23 Agustus 2026 siang di kawasan Sungai Bijuku, Desa Luwuk Bunter, kini telah merambat hingga wilayah Sei Isin Raya di Desa Sungai Paring.

Ratusan hektare lahan masyarakat dilaporkan terdampak, termasuk puluhan hektare kebun sawit.

Warga yang menjadi pemilik lahan terpaksa turun langsung memadamkan api dengan kemampuan dan peralatan seadanya.

Mereka tidak hanya bekerja pada siang hari, tetapi tetap bertahan di lokasi hingga malam untuk mengawasi kobaran api.

Salah seorang petani, Nako, mengaku kondisi warga sudah sangat kelelahan. Namun mereka tidak punya banyak pilihan karena lahan dan tanaman yang menjadi sumber penghidupan terancam dilalap api.

“Masyarakat sudah babak belur, siang malam berjibaku. Kami sampai bertahan dan beristirahat di lahan,” kata Nako, Selasa 25 Agustus 2026.

Menurutnya, api pertama kali terlihat di kawasan Sungai Bijuku, kemudian terus menjalar hingga ke wilayah lainnya.

“Mulai Minggu siang itu api menyala dari wilayah Luwuk Bunter, di daerah Sungai Bijuku. Kemudian menyebar sampai ke Sei Isin Raya dan sampai hari ini masih dilakukan pemadaman,” ujarnya.

Nako menyebut luas lahan masyarakat yang terbakar kini diperkirakan mencapai ratusan hektare. Sedangkan kebun sawit milik masyarakat yang terdampak diperkirakan sekitar 50 hingga 60 hektare.

Bagi warga, kebakaran ini bukan sekadar persoalan lahan yang hangus. Kebun dan lahan tersebut merupakan tempat mereka menggantungkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan kondisi api yang semakin luas, warga pun harus mengerahkan tenaga semaksimal mungkin. Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan peralatan yang tersedia, termasuk mesin Alkon.

Namun upaya tersebut menghadapi kendala serius. Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan utama di lapangan. Mesin Alkon yang telah disiapkan warga tidak akan mampu bekerja maksimal apabila sumber air sulit diperoleh.

Warga pun harus berpindah dari satu titik ke titik lainnya untuk mencari lokasi api yang masih menyala dan mencegah kobaran merambat ke lahan yang belum terbakar.

Di tengah kelelahan tersebut, masyarakat berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan pemadaman yang lebih kuat, termasuk melalui water bombing.

“Kami berharap ada bantuan water bombing untuk membantu pemadaman, mengingat kondisi karhutla sudah semakin luas,” kata Nako.

Harapan itu disampaikan karena sebagian titik kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Bantuan dari udara dinilai dapat mempercepat penanganan, sekaligus meringankan beban warga yang selama beberapa hari harus berhadapan langsung dengan kobaran api.

Hingga kini, warga masih bertahan di sekitar lokasi kebakaran. Mereka melakukan pemadaman, penyisiran, sekaligus menjaga lahan agar api tidak kembali membesar.

Di tengah kepungan asap dan panasnya api, warga hanya bisa berharap bantuan segera datang. Mereka tidak ingin kehilangan lebih banyak lahan dan kebun yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarga. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top