Hujan Mulai Pecah di Cempaga Hulu, Warga Berharap Karhutla Kotim Segera Berakhir

Penulis: Redaksi  •  Minggu, 06 September 2026 | 12:26:47 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Setelah cukup lama didera panas dan kondisi kering, langit akhirnya mulai menumpahkan hujan di sejumlah wilayah Kecamatan Cempaga Hulu, Kotawaringin Timur.

Hujan tersebut terjadi pada Sabtu 5 September 2026 sore. Guyuran hujan terpantau di Desa Pelantaran sekitar pukul 15.00 WIB dengan durasi kurang lebih 15 menit.

Tak lama berselang, hujan juga mengguyur kawasan Desa Pundu, termasuk sekitar Jalan Tjilik Riwut, sekitar pukul 16.00 WIB.

Hujan yang turun di dua wilayah tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat. Sebab, selama beberapa waktu terakhir kondisi panas dan kering membuat sejumlah lahan menjadi rawan terbakar, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Kotim.

Di Pelantaran, warga yang melintas, Ijai, menyambut turunnya hujan dengan harapan besar. Ia berharap guyuran air tidak hanya terjadi di kawasan tempatnya melintas, tetapi meluas ke seluruh wilayah Kotim.

“Semoga Kotawaringin Timur pada umumnya segera turun hujan agar Karhutla segera berakhir,” harapnya.

Sementara itu, di Desa Pundu, hujan turun sekitar pukul 16.00 WIB ketika sejumlah warga melintas di Jalan Tjilik Riwut. Air hujan langsung membasahi badan jalan yang sebelumnya kering dan berdebu.

Warga yang melintas dari arah Kereng Pangi, Rifal, mengatakan dirinya melihat langsung perubahan kondisi jalan setelah hujan mengguyur kawasan tersebut.

“Sekitar jam 4 lewatan, sore pas kami pulang dari Kereng. Hujannya membuat jalanan basah,” ujar Rifal.

Hujan yang turun meski berlangsung singkat memberikan perubahan pada kondisi sekitar. Jalan yang sebelumnya kering berubah basah, sementara udara terasa lebih sejuk setelah guyuran air turun.

Bagi warga, hujan tersebut bukan hanya soal jalan yang basah. Guyuran air sangat diharapkan dapat meningkatkan kelembapan tanah dan vegetasi yang sebelumnya mengering akibat cuaca panas.

Kondisi lahan yang kering selama ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Semak, rerumputan dan dedaunan yang kehilangan kelembapan dapat dengan mudah terbakar apabila tersulut api.

Karena itu, turunnya hujan di Pelantaran dan Pundu menjadi secercah harapan di tengah situasi Karhutla. Warga berharap hujan tersebut menjadi awal dari guyuran yang lebih luas dan lebih lama.

“Mudahan Kotim akan diguyur hujan merata. Biar jalan tidak berdebu, dan Karhutla juga cepat padam,” harap Rifal.

Meski demikian, hujan yang turun di Cempaga Hulu masih bersifat lokal. Guyuran tersebut belum berarti seluruh wilayah Kotim telah terbebas dari kondisi kering maupun ancaman Karhutla.

Wilayah yang belum mendapatkan hujan tetap berpotensi mengalami kondisi lahan kering. Karena itu, kewaspadaan masyarakat masih diperlukan, terutama untuk mencegah munculnya titik api baru.

Harapan terhadap hujan semakin besar karena sebelumnya BMKG juga memprakirakan adanya peluang hujan di wilayah Kotim. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top