KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur kembali menyisakan jejak kematian satwa liar. Dua ekor trenggiling ditemukan dalam kondisi mati di kawasan bekas kebakaran di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau.
Kedua trenggiling itu ditemukan oleh komunitas atau aktivis lingkungan Sampit ketika melakukan penyisiran di kawasan yang sebelumnya dilanda karhutla, Minggu 20 September 2026.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan dan dibawa untuk diserahkan kepada 17.20 WIB, dua bangkai trenggiling diterima petugas BKSDA Pos Sampit.
Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah membenarkan adanya penyerahan dua bangkai trenggiling tersebut.
“Memang ada dua ekor trenggiling yang diserahkan kepada kami. Satwa itu ditemukan komunitas atau aktivis lingkungan saat menyisir lokasi bekas karhutla di Terantang Hilir,” kata Muriansyah.
Kondisi kedua satwa tersebut cukup mengenaskan. Sebagian besar bagian tubuh trenggiling sudah tidak utuh lagi ketika ditemukan.
Kondisi itu juga membuat bangkai satwa tidak memungkinkan untuk dibawa dalam kondisi terlalu lama. Setelah menerima penyerahan, petugas BKSDA Pos Sampit kemudian langsung melakukan penguburan.
“Setelah diserahkan, langsung kami kuburkan sesuai arahan pimpinan karena kondisi bangkainya sudah berbau. Lokasi penguburan berada di wilayah Kecamatan Baamang,” ujar Muriansyah.
Penguburan dilakukan sebagai penanganan terhadap bangkai satwa yang telah ditemukan dalam kondisi rusak dan mulai membusuk.
Di balik penemuan tersebut, keberadaan dua bangkai trenggiling menjadi gambaran lain dari dampak karhutla yang tidak hanya menyasar lahan, tetapi juga habitat satwa liar.
Saat api melalap kawasan vegetasi, satwa yang hidup di dalamnya menghadapi ancaman langsung. Satwa yang tidak sempat menyelamatkan diri dapat terjebak di tengah kepungan api, sementara yang berhasil keluar dari kawasan terbakar harus menghadapi perubahan habitat dan berkurangnya sumber makanan.
Temuan trenggiling di Terantang Hilir juga menunjukkan bahwa kawasan yang sebelumnya dianggap hanya sebagai lokasi kebakaran sebenarnya memiliki fungsi ekologis bagi berbagai jenis satwa.
Trenggiling merupakan salah satu satwa liar yang mendapat perlindungan. Keberadaannya di alam sangat bergantung pada kondisi habitat yang masih mendukung kehidupan dan ketersediaan sumber pakan.
Penemuan dua satwa tersebut dilakukan ketika komunitas lingkungan menyisir lokasi bekas kebakaran. Aktivitas penyisiran itu sekaligus memperlihatkan bahwa dampak kebakaran masih dapat ditemukan setelah api padam.
Tidak hanya bekas vegetasi yang hangus, tetapi juga jejak satwa yang menjadi korban.
Bagi petugas konservasi, bangkai dua trenggiling tersebut kini telah dikuburkan. Namun temuan itu meninggalkan persoalan yang lebih luas mengenai dampak kebakaran terhadap ekosistem di wilayah yang terdampak karhutla.
Apalagi, kawasan hutan dan lahan yang terbakar menjadi bagian dari ruang hidup satwa liar yang selama ini tidak terlihat secara langsung oleh manusia.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kejadian karhutla tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar atau kepulan asap yang menyelimuti permukiman. Di dalam kawasan yang terbakar, terdapat ekosistem dan satwa yang ikut menghadapi risiko ketika api menyebar.
Penyerahan dua bangkai trenggiling kepada BKSDA Pos Sampit dan proses penguburannya turut diliput media online. (su)