KALAMANTHANA, Sampit – Kemarau panjang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan dampak berbeda terhadap kesehatan masyarakat. Ketika kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) perlahan turun, kasus diare justru berbalik meningkat di tengah persoalan ketersediaan air bersih.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim dari 21 puskesmas menunjukkan kasus ISPA masih berada pada angka ratusan setiap pekan.
Pada minggu ke-35 September, tercatat 766 kasus ISPA. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 745 kasus pada minggu ke-36, sebelum kembali turun menjadi 685 kasus pada minggu ke-37.
Dengan demikian, selama tiga pekan terakhir terjadi penurunan 81 kasus atau sekitar 10,6 persen. Namun, penurunan tersebut belum menunjukkan bahwa gangguan pernapasan telah benar-benar mereda.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan tren penurunan tersebut belum terlalu berarti karena kasus ISPA masih cukup tinggi.
“Memang ada penurunan dalam beberapa pekan terakhir, tetapi belum signifikan. Dari laporan puskesmas, angkanya juga masih berada di atas rata-rata,” ujar Nugroho, Selasa (22/9/2026).
Pada minggu ke-37, kasus ISPA tertinggi tercatat di Puskesmas Ketapang 1 sebanyak 165 kasus. Disusul Parenggean 1 dengan 81 kasus dan Baamang 2 sebanyak 76 kasus.
Namun, data tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena jumlah pasien yang dilayani suatu puskesmas tidak selalu menggambarkan jumlah penderita berdasarkan domisili.
Kondisi itu terutama terjadi di wilayah kerja Puskesmas Ketapang 1 yang memiliki sejumlah klinik swasta dengan pasien dari berbagai daerah.
“Kalau dilihat berdasarkan pelayanan puskesmas memang angkanya seperti itu. Tapi di Ketapang 1 ada beberapa klinik swasta yang pasiennya berasal dari berbagai daerah, sehingga tidak semuanya merupakan warga wilayah kerja puskesmas,” jelasnya.
Sementara itu, pola berbeda terlihat pada kasus diare.
Pada minggu ke-35, Dinkes mencatat 274 kasus diare dari 21 puskesmas. Angka tersebut sempat turun menjadi 268 kasus pada minggu ke-36.
Namun, memasuki minggu ke-37, kasus diare justru melonjak menjadi 311 kasus.
Artinya, hanya dalam satu pekan terjadi penambahan 43 kasus atau sekitar 16 persen dibandingkan minggu sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi ketika kemarau panjang masih berlangsung dan sejumlah wilayah Kotim menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.
“Kasus diare memang menunjukkan kecenderungan naik. Apalagi kondisi kemarau cukup panjang dan ketersediaan air bersih di beberapa wilayah mulai terbatas,” kata Nugroho.
Pada minggu ke-37, kasus diare terbanyak tercatat di Puskesmas Ketapang 1 dengan 89 kasus. Berikutnya Cempaka Mulia 64 kasus, Ketapang 2 sebanyak 21 kasus, serta Baamang 2 dan Parenggean 1 masing-masing 16 kasus.
Untuk Cempaka Mulia, Dinkes menilai angka tersebut cukup menggambarkan kondisi masyarakat Kecamatan Cempaga karena masyarakat dari luar wilayah relatif jarang berobat ke fasilitas tersebut.
“Untuk Cempaka Mulia, kemungkinan besar kasusnya memang berasal dari masyarakat Kecamatan Cempaga. Pasien dari luar wilayah relatif jarang berobat ke sana,” ujarnya.
Lonjakan diare tersebut menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan persoalan air bersih. Kemarau tidak hanya membuat sumber air semakin terbatas, tetapi juga memengaruhi kualitas air di sejumlah wilayah.
Dinkes menerima informasi mengenai peningkatan salinitas pada jaringan air PDAM di wilayah Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan. Masyarakat di wilayah tersebut diminta tidak menggunakan air PDAM untuk memasak dan minum.
Persoalan air kemudian menjadi lebih luas karena air bersih dibutuhkan bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk mencuci tangan, membersihkan bahan makanan, mencuci peralatan makan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi paparan asap akibat karhutla. Kondisi udara tersebut membuat persoalan kesehatan berjalan dari dua arah sekaligus.
ISPA masih berada di angka ratusan kasus setiap pekan, sementara diare justru melonjak ketika ketersediaan air bersih semakin terbatas.
Kemarau panjang akhirnya tidak hanya terlihat dari lahan yang mengering atau asap yang memenuhi udara. Dampaknya mulai tercermin pada angka penyakit yang tercatat di fasilitas kesehatan Kotim. (su)