Arif Norkim Usulkan Batas Usia Relawan Karhutla

Penulis: Huda  •  Sabtu, 19 September 2026 | 17:40:00 WIB
Arif M. Norkim mendorong Pemko Palangka Raya memprioritaskan relawan karhutla usia produktif dengan kondisi fisik prima dan pelatihan dasar.

KALAMANTHANA, Palangka Raya  - Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M. Norkim, mendorong Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya memprioritaskan masyarakat usia produktif dalam perekrutan relawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dinilai penting untuk mendukung efektivitas pemadaman sekaligus menjaga keselamatan relawan di lapangan.

Menurut Arif, penanganan titik api membutuhkan kondisi fisik yang prima. Karena itu, calon relawan perlu melalui penjaringan yang tepat serta mendapatkan pelatihan dasar dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).

Ia menilai, peran ketua RT dan RW penting untuk mendorong partisipasi warga muda agar dapat bergabung sebagai relawan.

“Relawan ini memang dibutuhkan. Seperti yang disampaikan Pak Wali Kota, dibuka seluas-luasnya siapa yang mau bergabung. Harapan saya ke depan ada partisipasi masyarakat melalui peran RT dan RW untuk menambah relawan,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026).

Ketua DPD PAN Kota Palangka Raya ini menegaskan, perekrutan relawan tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah personel. Faktor usia dan kondisi fisik juga perlu menjadi pertimbangan sebelum seseorang diterjunkan dalam penanganan karhutla.

Ia mengusulkan agar pemerintah lebih banyak menjaring warga usia produktif, khususnya mereka yang berusia di bawah 40 tahun dan dinilai mampu menjalankan tugas lapangan.

“Jangan juga yang diambil yang sudah tua. Harusnya cari yang muda-muda juga, yang di bawah 40 tahun. Umur juga harus memengaruhi sebagai satgas dan relawan,” ujarnya.

Arif menjelaskan, relawan karhutla dapat menghadapi kondisi lapangan yang berat, seperti suhu panas dan keterbatasan sumber air saat proses pemadaman. Oleh sebab itu, kesiapan fisik calon relawan perlu diperiksa untuk mengurangi risiko keselamatan dan kesehatan.

“Jangan sampai asal hendak jadi satgas atau relawan, tetapi dengan kondisinya malah berdampak negatif untuk dirinya. Ini yang harus dipertimbangkan juga,” ungkapnya.

Selain usia dan kondisi fisik, Arif menilai pelatihan dasar juga perlu diberikan kepada calon relawan. Bekal tersebut penting agar mereka memahami cara penanganan karhutla serta dapat menjalankan tugas dengan memperhatikan prosedur keselamatan. (Mit).

Reporter: Huda
Back to top