KALAMANTHANA, Sampit – Kepulan asap masih menggantung di atas lahan yang terbakar ketika warga menemukan pemandangan memilukan. Di antara tanah yang menghitam dan semak yang hangus, hanya tersisa tulang-belulang seekor rusa.
Satwa tersebut ditemukan di kawasan antara Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, dan Desa Rawasari, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Tidak diketahui secara pasti bagaimana rusa itu mati. Namun, keberadaannya di tengah lahan terbakar menimbulkan dugaan satwa tersebut menjadi korban kobaran api.
Arul, warga setempat mengatakan kondisi rusa saat ditemukan sudah sangat mengenaskan.
“Sudah tidak ada tubuhnya, yang tersisa cuma tulang-belulang. Sedih juga melihatnya,” ujar Arul, Selasa 6 Oktober 2026.
Tidak ada yang mengetahui apakah rusa itu sempat berlari menyelamatkan diri ketika api mulai menjalar. Yang tersisa kini hanya tulang di atas tanah hangus, tanpa suara dan tanpa jejak kehidupan.
Menurut Arul, keberadaan satwa liar di kawasan tersebut masih terlihat dari banyaknya jejak yang ditemukan.
“Jejak satwa masih banyak di sekitar sana. Kemungkinan memang masih ada yang hidup dan melintas di kawasan itu,” katanya.
Temuan tersebut sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap satwa lain yang mungkin masih berada di sekitar lokasi kebakaran. Ketika habitat terbakar, bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga tempat berlindung dan sumber makanan bagi satwa.
Sementara itu, api di kawasan tersebut belum sepenuhnya padam. Warga masih berjibaku mengendalikan sejumlah titik yang masih menyala agar tidak kembali meluas.
“Masih ada api yang menyala. Kami masih berusaha memadamkannya supaya tidak merembet,” ujar Arul.
Di tengah upaya warga menjinakkan api, tulang-belulang rusa itu menjadi saksi bisu betapa panjang dampak sebuah kebakaran. Api mungkin hanya membutuhkan waktu singkat untuk menghanguskan lahan, tetapi luka yang ditinggalkannya jauh lebih panjang.
Suatu hari nanti, hujan akan turun, tunas-tunas baru tumbuh, dan hamparan hitam itu perlahan kembali menghijau. Namun, kehidupan yang telah hilang tidak akan pernah kembali. Tidak ada lagi langkah rusa di antara semak, tidak ada lagi suara satwa yang mencari makan di kawasan tersebut.
Yang tersisa hanyalah tulang-belulang di atas tanah hangus sebuah pengingat sunyi bahwa setiap kobaran api bukan hanya membakar lahan, tetapi juga dapat memutus kehidupan yang selama ini tersembunyi di dalamnya.
Dan ketika asap akhirnya benar-benar lenyap, mungkin yang paling sulit dipulihkan bukan sekadar hutan yang terbakar, melainkan kehidupan yang tak sempat melarikan diri. (su)