Viral! Beruang Berkaki Luka Parah Muncul di Sampit, Diduga Kena Jerat Sisit

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 17:43:55 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Video seekor beruang dengan kondisi kaki belakang kiri yang mengalami luka parah mendadak menjadi perhatian warga di Sampit, Kotawaringin Timur. Satwa liar itu diduga menjadi korban jerat sisit.

Beruang tersebut ditemukan di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Selasa (6/10/2026). Dalam video yang beredar, satwa itu terlihat berada di antara ranting pohon tumbang di sekitar tepi sungai atau parit.

Bagian kaki belakang kirinya tampak mengalami luka serius. Kondisi tersebut membuat warga khawatir, terlebih lokasi kemunculan beruang berada tidak jauh dari kawasan kebun dan aktivitas masyarakat.

Informasi mengenai keberadaan beruang kemudian diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit. Petugas bersama aktivis lingkungan langsung melakukan pengecekan dan pencarian di sekitar lokasi.

Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya menduga luka pada kaki beruang berkaitan dengan jerat yang dipasang di kawasan tersebut.

“Kalau melihat luka di kaki belakang bagian kiri, bentuknya seperti dampak dari jerat. Masyarakat biasa menyebutnya jerat sisit,” kata Muriansyah, Rabu 7 Oktober 2026.

Menurutnya, jerat sisit umumnya digunakan masyarakat untuk menjerat babi. Namun, pemasangan jerat di kawasan yang juga menjadi jalur pergerakan satwa liar berpotensi mengenai hewan lain.

“Jerat tersebut biasanya digunakan untuk menjerat babi. Kalau mengenai satwa lain, tentu bisa menyebabkan luka yang serius,” ujarnya.

BKSDA memperkirakan beruang tersebut sempat terjebak sebelum akhirnya berhasil melepaskan diri. Luka yang ditimbulkan diduga cukup parah sehingga satwa itu masih harus bertahan dengan kondisi kaki yang cedera.

Petugas kemudian menyisir kawasan sekitar, termasuk kebun kelapa sawit seluas kurang lebih dua hektare. Pencarian dilakukan secara hati-hati karena beruang yang terluka berpotensi menjadi lebih agresif ketika merasa terancam.

Namun, hingga pencarian dihentikan karena hari mulai gelap, satwa tersebut belum berhasil ditemukan.

“Beruang yang normal saja harus kami waspadai, apalagi yang sedang terluka. Karena sudah mulai gelap, pencarian kami hentikan dan akan kami lanjutkan kembali,” jelas Muriansyah.

BKSDA juga belum memastikan apakah kondisi lingkungan di sekitar lokasi turut memengaruhi kemunculan beruang tersebut. Pasalnya, terdapat titik kebakaran lahan di sekitar kawasan.

Menurut Muriansyah, dugaan dampak karhutla masih harus ditelusuri. Petugas perlu menemukan beruang tersebut terlebih dahulu untuk melihat kondisi fisiknya secara langsung.

“Kalau untuk luka yang terlihat, sementara ini mengarah ke jerat. Kalau ada pengaruh kebakaran atau tidak, kami harus menemukan beruangnya dulu,” katanya.

Warga setempat menyebut kemunculan beruang di kawasan tersebut bukan kejadian pertama. Satwa itu bahkan beberapa kali terlihat berkeliaran di sekitar perkebunan dan pernah memakan tanaman nanas milik warga.

Kondisi ini membuat keberadaan beruang tersebut perlu segera ditangani, terutama karena satwa dalam keadaan terluka dapat bergerak tidak menentu dan berpotensi mendekati permukiman.

BKSDA mengimbau warga tidak mencoba menangkap atau mengejar apabila kembali melihat beruang tersebut. Masyarakat juga diminta tidak memasang jerat atau perangkap untuk menghalau satwa.

“Kalau warga melihat atau menemukan beruang di kebun atau ladang, jangan ditangkap, jangan memasang jerat atau perangkap beruang. Segera laporkan kepada petugas BKSDA,” imbaunya.

Pencarian akan kembali dilakukan untuk mengetahui keberadaan sekaligus kondisi beruang tersebut. Jika ditemukan, petugas akan menentukan langkah penanganan berdasarkan tingkat luka dan situasi di lapangan.

BKSDA juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga jarak dan tidak mengambil tindakan sendiri. Laporan cepat dari warga dinilai penting agar satwa dapat ditangani tanpa menimbulkan risiko bagi manusia maupun beruang.

Di sisi lain, dugaan penggunaan jerat menjadi perhatian karena perangkap yang dipasang untuk satwa tertentu dapat melukai hewan lain yang melintas. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak memasang jerat sembarangan di kawasan yang masih menjadi habitat atau jalur pergerakan satwa liar. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top