KALAMANTHANA, Purwakarta - Kepastian mutu benih, sejauh ini menjadi salah satu pondasi krusial bagi petani dalam mengelola risiko budi daya guna memastikan pertumbuhan tanaman yang optimal di lapangan.
Sebagai bahan hidup (living material), kualitas benih sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, fisiologis, dan kesehatan tanaman, sehingga proses pengendalian mutu membutuhkan sistem pengujian yang konsisten serta berbasis data yang dapat dipercaya.
Guna mendukung keandalan proses tersebut, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) memperkuat sistem pengendalian mutu benihnya melalui akreditasi ISO/IEC 17025:2017 untuk laboratorium pengujian internal.
Langkah ini melengkapi standar pengujian International Seed Testing Association (ISTA) yang telah diterapkan sebelumnya.
Hal mana, sertifikasi ISTA berfokus pada metodologi khusus pengujian benih secara global, sementara akreditasi ISO/IEC 17025:2017 memastikan kompetensi teknis, tata kelola, dan keandalan operasional laboratorium pengujian secara menyeluruh.
Pemerintah Indonesia sendiri terus mendorong laboratorium pengujian termasuk industri perbenihan menerapkan standar SNI ISO/IEC 17025.
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang juga Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN) Donny Purnomo Januardhi Effyandono, menegaskan bahwa standarisasi akan memastikan hasil pengujian memiliki akurasi, integritas, dan pengakuan internasional.
General Manager Seed Operation Ewindo, Abu Hanifah, mengatakan akreditasi ini menjadi milestone penting yang semakin melengkapi standar pengujian yang telah perusahaan terapkan dan sangat mengapresiasi dorongan dan pembinaan berkelanjutan dari Pemerintah, khususnya BSN dan KAN.
Menurutnya, pengujian mutu benih bukan sekadar prosedur internal perusahaan, melainkan bagian tak terpisahkan dari ekosistem pertanian dan sistem pangan nasional.
"Data pengujian yang obyektif dan terukur merupakan kunci untuk menjaga konsistensi mutu. Penguatan sistem pengujian melalui standar yang diakui membantu memastikan bahwa setiap benih yang sampai ke petani telah melalui proses evaluasi mutu yang ketat. Ketersediaan data yang valid dan konsisten ini membantu memperkuat rantai pasok pertanian serta mendukung ketahanan sistem pangan nasional," ujar Abu Hanifah.
ISO/IEC 17025:2017 sendiri merupakan standar internasional untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi.
Penerapan standar ini pada laboratorium benih mencakup keandalan peralatan, kompetensi personel, ketertelusuran pengukuran, hingga validitas prosedur evaluasi parameter mutu seperti daya kecambah, kemurnian fisik, dan potensi patogen tular benih (seed-borne pathogen).
Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus mendorong penerapan SNI ISO/IEC 17025 pada laboratorium pengujian nasional guna meningkatkan kredibilitas infrastruktur mutu di Indonesia.
Dengan data pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan, hasil evaluasi laboratorium memiliki validitas teknis yang kuat sekaligus selaras dengan standar nasional maupun global.
Managing Director Ewindo, Isak Heryawan, menegaskan bahwa fokus utama dari penguatan sistem pengujian ini adalah keberlanjutan usaha tani para petani pengguna benih.
"Bagi petani, benih adalah investasi awal yang menentukan kelangsungan budi daya mereka. Oleh karena itu, membangun kepercayaan petani tidak bisa sekadar melalui janji, melainkan harus dibuktikan lewat konsistensi mutu produk. Langkah penguatan laboratorium pengujian ini merupakan bagian dari upaya kami untuk terus menjaga kepercayaan tersebut, sehingga petani dapat merencanakan proses pertanamannya dengan lebih baik dan tenang,” kata Isak Heryawan. ***