Asap Belum Enyah! Hujan Turun, Udara Sampit Masih Sangat Tidak Sehat

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:32:37 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (28/10/2026), belum sepenuhnya mengusir ancaman kabut asap.

Meski hujan membawa harapan bagi masyarakat, kualitas udara di Sampit masih berada pada kategori sangat tidak sehat.

Berdasarkan data ISPUNet, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter PM2.5 di Sampit tercatat mencapai 318 pada pukul 09.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang masih berisiko bagi kesehatan sehingga masyarakat perlu tetap waspada.

Sementara itu, pemantauan melalui situs IQAir menunjukkan indeks kualitas udara Sampit berada di angka 206 atau masuk kategori tidak sehat. Perbedaan angka dari kedua platform tersebut dapat terjadi karena perbedaan sistem pemantauan dan indikator yang digunakan.

Tingginya angka pencemaran tersebut menjadi pengingat bahwa turunnya hujan tidak selalu langsung membuat kualitas udara membaik. Partikel halus PM2.5 masih dapat menjadi ancaman, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Hujan yang kembali turun di wilayah Cempaga dan sejumlah kawasan lainnya di Kotim diharapkan membantu mengurangi kabut asap yang selama ini mengganggu aktivitas masyarakat.

Namun, kondisi udara tetap perlu dipantau untuk memastikan apakah konsentrasi partikel pencemar benar-benar mengalami penurunan.

Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leonardo, menyampaikan bahwa hujan yang terjadi merupakan hujan alami. Kendati demikian, pihaknya tetap mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Peluang hujan di wilayah Kotim diperkirakan meningkat seiring peralihan menuju musim hujan yang berlangsung secara bertahap pada November 2026. Wilayah tengah diprakirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada awal November, sedangkan wilayah selatan diperkirakan menyusul pada akhir November.

“Wilayah tengah Kotim diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada awal November, sedangkan wilayah selatan menyusul pada akhir November,” jelasnya.

Datangnya musim hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang mengering, menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mengurangi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah. Meski demikian, perubahan cuaca tidak selalu langsung diikuti penurunan konsentrasi polutan di udara.

Selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan fisik yang berat. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator seperti masker N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Hujan yang turun menjadi harapan baru bagi masyarakat Kotim untuk kembali menikmati udara bersih setelah menghadapi kabut asap. Namun, hingga kualitas udara menunjukkan perbaikan, kewaspadaan tetap diperlukan. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi kualitas udara dan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top