KALAMANTHANA, Palangka Raya  - Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M. Norkim, mendorong pengembangan wadi, makanan fermentasi ikan khas Kalimantan Tengah (Kalteng), menjadi produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, pengembangan kuliner tradisional tersebut berpotensi meningkatkan nilai ekonomi produk lokal sekaligus membuka peluang untuk mendongkrak pendapatan masyarakat.

Arif menilai, wadi memiliki peluang pasar yang luas apabila didukung inovasi produk dan standardisasi mutu yang baik. Karena itu, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya mempertahankan keaslian cita rasa, tetapi juga memperhatikan kualitas kemasan, identitas jenama (branding), serta strategi pemasaran digital.

“Wadi ini merupakan salah satu kekayaan kuliner khas Kalimantan Tengah yang harus kita jaga dan kembangkan. Jangan sampai hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga bisa menjadi produk unggulan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Arif, Sabtu (17/10/2026).

Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Palangka Raya tersebut menegaskan, tampilan produk dan penggunaan kemasan yang higienis menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saing wadi di pasar modern.

Selain menjaga kualitas produk, kemasan yang menarik dan pemasaran daring dinilai dapat memperluas jangkauan distribusi wadi hingga ke luar daerah. Upaya tersebut diharapkan mampu membuat kuliner khas Kalteng semakin dikenal sekaligus membuka peluang usaha yang lebih besar bagi masyarakat.

“Melalui kemasan yang menarik, branding yang kuat, dan pemasaran secara digital, produk wadi bisa lebih dikenal masyarakat luas. Ini menjadi peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga,” tuturnya.

Arif juga mengapresiasi langkah Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Palangka Raya (UPR) yang telah memberikan pelatihan kepada warga di Kelurahan Pahandut Seberang.

Ia berharap kegiatan pendampingan semacam itu dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk dan kemampuan pemasaran, sehingga wadi tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner tradisional, tetapi juga berkembang menjadi produk UMKM yang memiliki nilai tambah ekonomi. (Mit).