KALAMANTHANA, Sampit – Banjir yang merendam Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, mulai menunjukkan penurunan setelah lima hari menggenangi pemukiman warga. Meski air perlahan menyusut, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi cuaca ekstrem masih tinggi.
Penurunan debit air mulai terlihat sejak Kamis (11/12/2025) malam. Bahrudin, warga setempat, menyebutkan genangan hanya berkurang beberapa sentimeter, namun cukup memberi harapan bagi warga yang terdampak. “Banjir mulai surut. Namun belum sepenuhnya. Masih belum aman, karena hujan dari hulu Sungai Mentaya bisa bikin air naik lagi,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Selama lima hari terakhir, banjir merendam rumah dan halaman warga dengan ketinggian 10 hingga 60 sentimeter. Aktivitas masyarakat sempat terhambat, terutama karena kondisi jalan licin membuat kendaraan sulit melintas.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan pihaknya terus melakukan pemantauan dan menyiagakan personel di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan air susulan. “Tim tetap bersiaga. Kondisi bisa berubah kapan saja, terutama jika hujan deras turun di hulu,” katanya.
Sementara itu, BMKG Tjilik Riwut mengeluarkan peringatan dini untuk 12–14 Desember 2025. Daerah perlambatan angin (konvergensi) berpotensi memicu hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko banjir, genangan, hingga pohon tumbang. (Su).