Transaksi Sabu Masih Beroperasi di Ponton, GDAN Bersama Masyarakat akan Rebut Ponton dari Tangan Kriminal

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:45:00 WIB
Pengurus GDAN ketika beraudensi dengan Kapolda Kalteng beberapa waktu yang lewat.

KALAMANTHANA, Palangka Raya - Wibawa hukum di Bumi Tambun Bungai sedang dipertaruhkan. Meski bulan suci Ramadan tengah berlangsung, kawasan Ponton di Jalan Rindang Banua, Kota Palangka Raya justru kian menjadi "surga" terbuka bagi para bandar dan pengedar narkoba meraup rupiah.

Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) secara tegas menyatakan perang dan mendesak aparat untuk tidak lagi berpangku tangan melihat kedaulatan negara diinjak-injak oleh mafia peredaran sabu-sabu.

Dalam rilisnya, Sabtu (14/3/2026), Sekretaris GDAN Ari Yunus Hendrawan membongkar fakta, transaksi sabu-sabu di Ponton beroperasi nonstop 24 jam.

Ironisnya, aktivitas haram ini dilakukan secara terang-terangan, dan pelakunya tidak mengenal rasa takut, sehingga keramaiannya mengalahkan pasar tradisional.

"Ini adalah tamparan keras bagi aparat penegak hukum! Bandar-bandar itu menjajakan racun seolah-olah mereka kebal hukum. Negara tidak boleh kalah oleh begundal narkoba. Seret dan ringkus mereka tanpa nanti!" tegas Ari dengan nada geram.

Ari menekankan bahwa salah satu keberhasilan pemberantasan narkoba di Kalimantan Tengah, Ketika “ pasar narkoba “ di Ponton berhasil dibersihkan.

Senada dengan itu, Ketua GDAN, Ririen Binti mendesak Pemerintah Kota Palangka Raya segera membangun Posko Terpadu Anti Narkoba permanen di lokasi tersebut.

"Jangan biarkan Ponton jadi wilayah 'tak bertuan'. Pemerintah harus hadir! Narkoba itu extraordinary crime, kejahatan luar biasa. Aparat hukum tidak perlu menunggu laporan atau keluhan warga untuk bertindak. Sikat habis gembongnya!,” ujar wartawan senior Kalteng tersebut.

Pernyataan keras lainnya juga datang dari salah satu pendiri GDAN, Ingkit Djaper, yang juga Wakil Ketua Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (BATAMAD) Kalteng, ia memperingatkan para mafia peredaran narkoba, bahwa kesabaran masyarakat adat Dayak sudah mulai menipis.

GDAN bersama masyarakat Dayak dan masyarakat lainnya yang tinggal di tanah Dayak, siap "menggeruduk" Ponton untuk merebut kembali wilayah tersebut dari cengkeraman mafia.

"Tanah Dayak bukan tempat bagi para pengedar narkoba melakukan aksi jahatnya! Setiap jengkal tanah di Ponton harus kembali ke pangkuan rakyat yang cinta damai. Kami bergerak bersama, karena tidak ingin masa depan generasi kami hancur oleh karena narkoba" tegas Ingkit dengan lantang.

Sementara itu, para pendiri GDAN lainnya, yakni Pendeta Bobo Wanto Baddak, Dandar Ardi, Andreas Junaidi, dan Sumiharja, serta Adhie, bersama-sama menegaskan, sebagai wujud tanggung jawab moral, karena dipercaya masyarakat Dayak, untuk memerangi narkoba, maka GDAN siap mempertahankan martabat tanah leluhur, dan GDAN bersiap melakukan aksi nyata untuk menghentikan mesin penghancur generasi muda yang selama ini beraksi bebas di Ponton.

“Kami sudah muak melihat tanah leluhur kami dikencingi oleh nafsu serakah para bandar dan pengedar narkoba, karena apa yang mereka lakukan adalah upaya genosida yang membawa masyarakat Dayak ke jurang kehancuran total ! Karena itu, GDAN serukan perang terhadap para penghancur masyarakat Dayak “ tegas para pendiri GDAN. (sly)
 

Reporter: Redaksi
Back to top