KALAMANTHANA, Muara Teweh – Dalam kegiatan koordinasi dan pengumpulan data kajian yang berlangsung di Aula Bappedaridda Muara Teweh, Kamis (23/4/2026). Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Utara, Drs. Muhlis, menegaskan pentingnya penguatan kebijakan energi baru terbarukan (EBT) dalam mendukung pembangunan kewilayahan, khususnya di zona timur Provinsi Kalimantan Tengah.
Kegiatan turut dihadiri oleh Tim Manajemen Riset dan Inovasi Daerah Regional 7 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipimpin oleh Deliyanti Ganesha bersama anggota tim lainnya.
Sekda Muhlis menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga riset nasional. “Dengan kehadiran tim BRIN, kita berharap dapat berkolaborasi, bersinergi, dan berakselerasi demi kemajuan daerah, khususnya dalam mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan di Barito Utara,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa isu EBT semakin relevan di tengah menipisnya cadangan energi fosil serta dampak geopolitik global terhadap harga bahan bakar minyak. Kondisi ini juga dirasakan di Barito Utara yang masih bergantung pada energi konvensional.
Secara ekonomi, Muhlis mengungkapkan bahwa struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Barito Utara masih didominasi sektor pertambangan batu bara, dengan kontribusi mencapai 35,53 persen pada tahun 2025, bahkan pernah menyentuh 48,76 persen pada tahun 2022. Selain itu, daerah ini memiliki potensi energi gas dari Blok Bangkanai di Kecamatan Lahei yang memasok sekitar 20 juta kaki kubik gas per hari untuk PLTMG Bangkanai.
Namun, ia menegaskan bahwa kedua sumber energi tersebut bukanlah energi terbarukan. “Gas memang termasuk energi baru, tetapi tidak dapat diperbarui. Cepat atau lambat akan mengalami penurunan hingga kelangkaan,” jelasnya.
Muhlis juga menyampaikan bahwa pada tahun 2025, Barito Utara menerima dana bagi hasil (DBH) sekitar Rp2,9 triliun dari sektor pertambangan dan gas. Meski memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah, ketergantungan pada sumber daya tidak terbarukan dinilai perlu segera diimbangi dengan pengembangan energi baru terbarukan.
Lebih lanjut, ia berharap kehadiran BRIN dapat membawa inovasi dan terobosan baru dalam menggali potensi EBT di Barito Utara. “Kami ingin ada perubahan pola pikir dan strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan, agar Barito Utara tidak hanya menjadi penghasil sumber daya alam, tetapi juga pelopor energi hijau di Kalimantan Tengah,” pungkasnya. (sly).