Gegara BBM Naik, Harga Sapi Ikut Melonjak di Sampit, Kurban Bakal Sepi?

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 29 April 2026 | 11:13:29 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Lonjakan harga hewan kurban menjelang Idul Adha di Sampit, Kotawaringin Timur, mulai menekan kemampuan warga untuk berkurban.

Kenaikan harga hewan kurban yang terjadi tahun ini di Sampit, Kotawaringin Timur, dinilai lebih terasa, seiring meningkatnya biaya distribusi akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga hewan kurban di pasaran Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Salah satu pedagang, Daeng Beta yang menyediakan hewan kurban di Jalan HM Arsyad Km 3,5 Sampit, hampir semua jenis sapi mengalami penyesuaian harga.

“Ada kenaikan sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor. Pengaruh dari ongkos mobil dan BBM,” ujarnya di Sampit, Rabu 29 April 2026.

Harga sapi kurban kini bervariasi, mulai dari Rp18 juta hingga Rp35 juta untuk jenis Bali. Sementara untuk sapi ukuran besar seperti limousin, harga bisa menembus Rp75 juta per ekor.

Angka tersebut dinilai cukup memberatkan bagi sebagian masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Di lapangan, pembeli masih didominasi pada kelas harga menengah. Kisaran Rp20 juta hingga Rp25 juta menjadi pilihan terbanyak karena dianggap paling realistis dengan kemampuan warga.

“Yang paling banyak diminati itu tetap di harga segitu. Kalau lebih tinggi, sudah mulai sepi,” jelasnya.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kurban yang rutin dilakukan setiap tahun berpotensi mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah hewan maupun partisipasi masyarakat.

Berbeda dengan sapi, harga kambing relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Hewan tersebut masih dijual di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp5 juta per ekor, sehingga menjadi alternatif bagi sebagian warga.

Meski harga naik, pasokan hewan kurban dipastikan tetap aman. Distribusi dari luar daerah seperti Makassar menuju Kalimantan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Proses karantina juga telah dilakukan selama kurang lebih 20 hari untuk memastikan kesehatan hewan.

“Pengiriman lancar, tidak ada kendala. Hewan juga sudah melalui karantina,” ungkapnya.

Selain itu, pengawasan kesehatan hewan kini semakin diperketat. Setiap hewan dilengkapi barcode sebagai penanda telah melalui pemeriksaan dan bukan berasal dari jalur ilegal.

“Nanti juga ada pengecekan lagi dari dinas sekitar dua minggu sebelum hari pemotongan,” tambahnya. (*)
 

Reporter: Redaksi
Back to top