Talkshow Kreatif Pesta Perak: Menelusuri 25 Tahun Jejak Pengabdian Uskup Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 08 Mei 2026 | 17:32:00 WIB
Uskup Keuskupan Palangka Raya, Mgr Aloysius M Sutrisnaatmaka, MSF

KALAMANTHANA, Palangka Raya – Uskup Keuskupan Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF mengaku terharu melihat antusiasme seluruh lapisan masyarakat dalam menyambut Pesta Perak tahbisan episcopal.

Menurutnya, perayaan tersebut menjadi wujud nyata rasa syukur atas perjalanan pelayanan yang telah dilalui bersama umat.

Hal tersebut disampaikan Uskup Aloysius dalam sambutannya sebelum dimulainya Talkshow Kreatif “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan”.

Talkshow yang merupakain rangkaian Pesta Perak Tahbisan Episcopal Uskup Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmak menghadirkan sejumlah tokoh yang menjadi saksi hidup perjalanan kepemimpinan Uskup Aloysius selama 25 tahun yaitu: Prof Petrus Poerwadi, RP T.L. Atsui Wiyatngow, Dr F.X Manesa, serta Sr Elisabeth.

“Saya sendiri tidak membayangkan akan dirayakan sampai seperti ini. Secara spontan patut kita syukuri, kita harus lebih bersyukur lagi karena apa yang kita alami lebih dari yang kita harapkan,” cerita Uskup Aloysius.

Dipandu moderator RD Andreas Jimmy, para narasumber secara bergantian membagikan kesaksian inspiratif mengenai sosok Uskup Aloysius. Pastor Atsui menggambarkan Uskup Aloysius sebagai pribadi yang murah hati dalam pelayanan.

“Jika diminta menggambarkan Uskup Aloysius dalam satu kalimat, maka kalimat saya adalah pelayanan yang murah hati,” katanya.

Sementara itu, Prof Petrus Poerwadi memilih satu kata sederhana untuk menggambarkan sosok Uskup Aloysius, yakni “tenang”. Menurutnya, ketenangan menjadi ciri khas kepemimpinan Uskup Aloysius dalam menghadapi berbagai persoalan dan dinamika pelayanan gereja.

Monsinyur kata Prof Petrus selalu tenang dalam menghadapi segala situasi. Beliau ini pendengar yang sangat baik, tidak akan memberi tanggapan jika tidak diminta.

“Beliau akan mendengarkan orang berbicara tanpa menanggapi, beliau tidak akan terpancing pada situasi yang panas, lalu baru akan memberi komentar jika diminta pertimbangan,” ujar Prof Petrus yang juga akademisi di Universitas Palangka Raya. (sly)
 

Reporter: Redaksi
Back to top