Jalan Rusak Bertahun-tahun, Warga Antang Kalang: Mana Aksi Nyata Pemkab Kotim?

Penulis: Redaksi  •  Senin, 22 Juni 2026 | 17:44:34 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Sudah lama mengalami kerusakan, jalan poros menuju Desa Tumbang Kalang, masih terabaikan.

Kesabaran warga Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur pun tampaknya mulai mencapai batas. Bertahun-tahun menghadapi jalan rusak tanpa perbaikan permanen, masyarakat kini mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan nyata, bukan sekadar janji yang terus berulang setiap tahun.

Ruas jalan poros menuju Desa Tumbang Kalang yang menjadi akses utama masyarakat hingga kini masih didominasi jalan tanah kuning.

Saat musim kemarau, debu tebal menyelimuti kawasan tersebut dan mengganggu aktivitas warga. Sebaliknya, ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan.

Kondisi itu bukan persoalan baru. Warga mengaku telah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kerusakan jalan yang tak kunjung terselesaikan secara permanen.

Berbagai upaya perbaikan yang pernah dilakukan dinilai hanya bersifat sementara dan tidak mampu menjawab persoalan mendasar.

"Sudah bertahun-tahun seperti ini. Kami benar-benar kesulitan kalau harus keluar desa," ujar Ahaw, warga setempat, Senin 22 Juni 2026.

Menurut warga, masih terdapat sekitar 5,5 kilometer ruas jalan yang belum diaspal menuju pusat Kecamatan Antang Kalang.

Meski panjangnya relatif pendek, kerusakan yang terjadi tergolong berat karena lapisan pengeras jalan telah hilang dan tidak lagi mampu menahan beban kendaraan maupun intensitas hujan.

Akibatnya, roda perekonomian masyarakat ikut tersendat. Distribusi kebutuhan pokok maupun hasil pertanian sering mengalami hambatan karena kendaraan pengangkut kesulitan mencapai lokasi.

"Kalau hujan, mobil susah masuk. Hasil kebun juga sering tidak bisa keluar tepat waktu," katanya.

Tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, buruknya kondisi jalan juga berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan. Warga yang membutuhkan penanganan medis harus menghadapi risiko perjalanan yang lebih besar karena akses transportasi sering terputus akibat jalan berlumpur.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena jalan tersebut merupakan urat nadi yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan dasar, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga aktivitas perdagangan.

Warga juga menyinggung rencana pembangunan jalan yang sebelumnya sempat mencuat.

Informasi mengenai proyek pengaspalan dengan nilai anggaran sekitar Rp26 miliar pernah beredar dan bahkan disebut telah memasuki tahap pembahasan.

Namun hingga kini, masyarakat mengaku belum melihat realisasi yang signifikan di lapangan.

"Pernah ada pembahasan dan rencana lelang, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," ungkap warga lainnya, Iyan.

Kekecewaan masyarakat bukan tanpa alasan. Mereka menilai pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman masih berjalan lambat dibanding kebutuhan riil yang dihadapi warga setiap hari.

Sementara itu, jalan yang rusak terus menjadi penghambat utama mobilitas dan perkembangan ekonomi desa.

Warga berharap pemerintah daerah tidak lagi menempatkan persoalan ini sebagai agenda rutin yang hanya dibahas saat perencanaan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk pekerjaan fisik yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kami tidak minta lebih. Kami hanya ingin jalan yang layak supaya bisa beraktivitas dengan aman dan lancar,” tegas Iyan.

Hingga kini, warga Tumbang Kalang masih harus berjibaku dengan jalan rusak yang mereka lintasi setiap hari. Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, masyarakat menunggu bukti nyata bahwa pemerataan infrastruktur benar-benar hadir hingga ke pelosok desa. (su)

Reporter: Redaksi
Back to top