Wah....Wartawan Pun Disebut-sebut dalam Kasus Meninggalnya Dokter Icha

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 08:44:19 WIB

KALAMANTHANA, Kupang – Profesi wartawan ikut terseret-seret dalam kasus meninggalnya dr Rliza Princila Utami Pakaenoni alias Dokter Icha. Ada apa?

Dokter Icha, dokter yang bertugas di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri. Dugaan sementara, dia melakukannya akibat depresi di bawah tekanan anggota DPRD TTU.

Tiga anggota DPRD TTU yang dipanggil Polres TTU dalam kasus meninggalnya Dokter Icha. Ketiganya adalah Theresius Lazakar dari Partai Golkar, Robert Tubani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Veronika Lake dari PDI Perjuangan.

Veronika Lake sendiri sudah memuat klarifikasi dalam sebuah pernyataan tertulis. Saat itu, dia mengaku menyebut-nyebut wartawan.

“Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan,” ujarnya, Minggu.

Veronika merasa perlu memberikan klarifikasi bukan untuk mengurangi rasa hormat kepada Dokter Icha. Namun sebagai bentuk penjelasan atas kronologi yang dialami secara langsung.

Dia menjelaskan kronologi versinya. Pada 13 Juni 2026, Veronika Lake menghadiri kegiatan arisan istri-istri anggota DPRD Kabupaten TTU yang berlangsung di Kecamatan Insana.

Usai kegiatan, Veronika Lake pulang ke Kefamenanu dengan menumpang kendaraan bersama dua anggota DPRD lainnya serta seorang istri anggota DPRD.

Di tengah perjalanan, salah seorang anggota DPRD Therensius Lazakar mengajak rombongan singgah di RS Leona untuk menjenguk keponakannya yang sedang menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat gigitan ular berbisa.

“Saya ikut membesuk karena kebetulan pulang bersama rombongan tersebut. Kehadiran saya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan sebelumnya,” katanya.

Setibanya di RS Leona, dua rekannya Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani lebih dahulu memasuki ruang perawatan. Sementara Veronika masih berada di depan IGD dan berbincang dengan istri salah seorang anggota DPRD.

Ketika memasuki ruangan, Veronika mengaku melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter.

Lalu Veronika menghampiri pasien untuk melihat kondisinya dan menanyakan tindak lanjut penanganan medis yang diberikan.

“Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan,” ujarnya.

Veronika juga memberikan penjelasan terkait ucapannya yang belakangan menjadi sorotan. Yakni kalimat “panggil wartawan saja”.

Dia berdalih pernyataan tersebut tidak ditujukan kepada dokter secara pribadi, melainkan merupakan usulan kepada salah seorang rekannya agar pelayanan kesehatan di rumah sakit mendapat perhatian publik.

“Terkait perkataan ‘panggil wartawan saja’, itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi, tetapi sebagai bentuk dorongan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit,” jelasnya.

Veronika mengatakan, tidak lama setelah itu pihak manajemen RS Leona bersama dokter lain datang memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan pasien. (*)
 

Reporter: Redaksi
Back to top