Dari Anak-anak hingga Dewasa, Warga Kotim Ramai-Ramai Nyemplung ke Sungai Mentaya Saat Mandi Safar

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:10:40 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Suasana di tepian Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berubah ramai saat warga melaksanakan tradisi Mandi Safar, Rabu 12 Agustus 2026.

Tradisi yang masih dipertahankan masyarakat tersebut diikuti berbagai kalangan. Pria dan wanita, dari anak-anak hingga dewasa beramai-ramai turun ke sungai untuk mengikuti Mandi Safar.

Sejak siang, warga mulai berdatangan ke tepian sungai. Sebagian membawa perlengkapan yang telah disiapkan dari rumah, termasuk daun sawang yang menjadi bagian dari tradisi Mandi Safar.

Begitu waktu pelaksanaan tiba, warga kemudian nyemplung ke Sungai Mentaya secara bersama-sama. Suasana pun menjadi semarak karena tradisi tersebut tidak hanya diikuti beberapa orang, tetapi melibatkan masyarakat dalam jumlah cukup ramai.

Bagi warga, Mandi Safar bukan sekadar aktivitas turun ke sungai. Tradisi tersebut menjadi momentum berkumpul bersama keluarga dan tetangga, sekaligus menjaga kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah seorang warga, Maryam, mengatakan persiapan untuk Mandi Safar telah dilakukan sejak pagi. Warga mulai melaksanakan tradisi tersebut setelah salat Zuhur.

“Sejak pagi sudah mulai mempersiapkan Mandi Safar pakai daun sawang. Habis Zuhur sudah mulai mandi Safar,” ujarnya.

Keikutsertaan berbagai kelompok usia membuat suasana Mandi Safar semakin terasa sebagai kegiatan bersama.

Selain Mandi Safar, masyarakat juga menggelar doa bersama di kampung. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi sekaligus kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.

Tradisi Mandi Safar juga masih dijalankan di sejumlah wilayah lain di Kotim, termasuk Kecamatan Seranau dan wilayah lainnya di kawasan permukiman yang berada di sepanjang bantaran sungai.

Bertahannya tradisi tersebut menjadi gambaran bahwa budaya masyarakat setempat masih memiliki ruang di tengah kehidupan modern. Dari generasi tua hingga generasi muda, Mandi Safar terus dikenalkan dan dilaksanakan secara bersama-sama.

Di Sungai Mentaya, tradisi itu akhirnya bukan hanya menghadirkan warga yang turun ke air, tetapi juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang telah berlangsung dari generasi ke generasi. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top