KALAMANTHANA, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong pelestarian budaya dan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat. Salah satunya melalui tradisi Mandi Safar yang hingga kini masih dilaksanakan masyarakat di sejumlah wilayah Kotim.
Komitmen tersebut terlihat saat Wakil Bupati Kotim Irawati menghadiri kegiatan Mandi Safar Tahun 2026 yang diselenggarakan Kelompok Prolanis “Ceria” Kecamatan Kota Besi di Pasar Kamis, Kelurahan Kota Besi Hilir, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. Masyarakat dari berbagai kalangan turut ambil bagian, menjadikan tradisi tersebut tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
Irawati menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat yang tetap menjaga tradisi Mandi Safar. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena mengandung semangat kebersamaan, silaturahmi sekaligus pelestarian budaya daerah.
“Mandi Safar merupakan salah satu tradisi masyarakat yang sarat dengan nilai kebersamaan, silaturahmi, serta pelestarian budaya dan kearifan lokal,” ujar Irawati.
Ia menilai keberlangsungan tradisi lokal menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Kotim. Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam melestarikan budaya daerah perlu terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Ulun menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah menjaga serta melestarikan tradisi ini,” katanya.
Menurutnya, Mandi Safar juga menjadi momentum positif untuk memperkuat hubungan sosial masyarakat. Warga dapat berkumpul, berinteraksi dan mempererat tali persaudaraan dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Irawati berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan menjadi bagian dari upaya menjaga kearifan lokal di Kotim.
“Semoga kegiatan ini dapat terus mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan masyarakat Kecamatan Kota Besi,” harapnya.
Pemkab Kotim juga terus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai kegiatan budaya dan kearifan lokal. Pelestarian budaya dinilai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh masyarakat.
Dengan tetap hidupnya tradisi Mandi Safar, nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong diharapkan semakin kuat. Tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga budaya dan identitas lokal.
“Salam sehat, salam kebersamaan, dan terus lestarikan budaya daerah kita,” pungkas Irawati. (su)