KALAMANTHANA, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat kesiapsiagaan sektor kesehatan untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah antisipasi dilakukan seiring kondisi udara di sejumlah wilayah yang masih dipengaruhi asap.
Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), Pemkab Kotim memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat edukasi agar warga dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan selama kondisi udara memburuk.
Dinkes Kotim mencatat sebanyak 2.656 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dari 2.119 kasus pada Juli atau bertambah 537 kasus.
Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, peningkatan kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan tersebut masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan kondisi kabut asap yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau melihat data pelayanan kesehatan, peningkatannya masih belum terlalu signifikan. Namun, kewaspadaan tetap kita tingkatkan karena kondisi udara akibat asap dapat memengaruhi kesehatan masyarakat,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Umar, data yang tercatat di fasilitas kesehatan belum tentu menggambarkan seluruh keluhan kesehatan di masyarakat. Sebagian warga yang mengalami gejala ringan kemungkinan memilih melakukan penanganan secara mandiri.
Karena itu, Pemkab melalui Dinkes terus mendorong masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan, terutama ketika kualitas udara sedang kurang baik.
Umar menjelaskan, ISPA pada dasarnya lebih banyak disebabkan infeksi virus. Namun, paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga tubuh yang sedang tidak fit menjadi lebih rentan mengalami keluhan.
“Paparan asap bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. Karena itu, ketika kondisi tubuh sedang menurun, masyarakat perlu lebih menjaga diri dan mengurangi paparan asap,” jelasnya.
Sebagai langkah perlindungan, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap terlihat pekat. Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan sebagai salah satu upaya mengurangi paparan.
Pemkab Kotim juga memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit tertentu. Kelompok tersebut diminta lebih berhati-hati karena paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
“Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki penyakit tertentu. Mereka sebaiknya mengurangi paparan asap dan segera memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan,” katanya.
Penguatan kesiapsiagaan kesehatan ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Kotim memastikan masyarakat tetap terlindungi di tengah tantangan musim kemarau dan karhutla.
Selain penanganan di fasilitas kesehatan, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar warga memahami langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan, mulai dari membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker hingga segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan pernapasan.
Dengan pelayanan kesehatan yang tetap disiagakan dan edukasi yang terus diperkuat, Pemkab Kotim berupaya memastikan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan.
Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan selama kondisi udara belum sepenuhnya membaik. (su)