KALAMANTHANA, Sampit – Kabut asap membuat perjalanan di Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (20/9/2026), berlangsung dalam kondisi berbeda.
Taksi air tetap bergerak membawa penumpang meski pandangan ke depan tertutup asap dan jarak pandang di sejumlah titik diperkirakan hanya sekitar 10 meter.
Dari tepian sungai, kabut terlihat membentang menutupi permukaan air. Sejumlah objek di tengah sungai maupun di seberang tampak samar. Kondisi itu membuat perjalanan taksi air harus dilakukan dengan lebih hati-hati.
Bagi motoris, situasi tersebut bukan sekadar persoalan jarak pandang. Mereka harus tetap menjaga perjalanan sambil membaca arah alur sungai dan mengantisipasi kemunculan kapal lain yang bisa baru terlihat ketika sudah berada cukup dekat.
Surianto, salah seorang motoris taksi air, mengatakan kondisi kabut paling menyulitkan ketika aktivitas masyarakat mulai berlangsung pada pagi hari.
"Kalau kabut sudah tebal, pandangan benar-benar terbatas. Kami tidak bisa memaksakan laju seperti biasa. Kalau terlalu pekat, biasanya lebih baik menunggu sampai pandangan agak terbuka daripada mengambil risiko," kata Surianto.
Menurut dia, jarak pandang di Sungai Mentaya saat kabut paling tebal hanya berkisar 10 sampai 50 meter. Bahkan, pada kondisi tertentu, pandangan disebut dapat menyusut hingga sekitar 10 meter.
Situasi tersebut membuat motoris harus terus berkonsentrasi sepanjang perjalanan. Kecepatan kapal dikurangi agar mereka memiliki waktu lebih untuk merespons apabila tiba-tiba muncul kapal lain di jalur yang sama.
Meski kondisi tidak ideal, taksi air tetap dibutuhkan warga. Transportasi sungai masih menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya, termasuk pada jam-jam aktivitas pagi.
Artinya, kabut asap tidak serta-merta menghentikan mobilitas warga di Sungai Mentaya. Perjalanan tetap berlangsung, tetapi dengan risiko dan kewaspadaan yang lebih tinggi.
Bagi penumpang, kondisi sungai yang tertutup kabut juga menimbulkan rasa cemas. Ahmad Yannor, salah seorang penumpang, mengatakan keterbatasan pandangan membuat perjalanan terasa berbeda dibandingkan saat kondisi normal.
"Yang paling membuat khawatir itu ketika pandangan ke depan tertutup. Kapal lain bisa saja baru terlihat saat sudah dekat. Jadi selama perjalanan kami lebih waspada," ujar Ahmad.
Kekhawatiran tersebut terutama muncul ketika taksi air berpapasan dengan kapal lain. Dengan jarak pandang pendek, waktu untuk mengantisipasi situasi menjadi semakin terbatas.
Motoris pun tidak hanya mengandalkan kecepatan dan pengalaman. Kondisi sekitar harus terus diamati, sementara laju taksi air disesuaikan dengan tingkat ketebalan kabut.
Kabut asap yang menyelimuti Sungai Mentaya sekaligus memperlihatkan meluasnya dampak karhutla terhadap aktivitas masyarakat. Bukan hanya pengguna jalan darat yang merasakan gangguan, warga yang menggantungkan mobilitas pada jalur sungai juga ikut terdampak.
Dalam kondisi normal, perjalanan taksi air dapat berlangsung relatif cepat. Namun ketika kabut menebal, perjalanan harus dilakukan lebih lambat dan keberangkatan bisa ditunda apabila jarak pandang dinilai terlalu terbatas.
Kondisi ini menjadi perhatian karena aktivitas transportasi sungai berlangsung sejak pagi, saat kabut masih cukup pekat. Semakin rendah jarak pandang, semakin besar pula kebutuhan motoris untuk menyesuaikan kecepatan dan menjaga jarak aman.
Untuk sementara, taksi air tetap menjadi urat nadi mobilitas sebagian warga di kawasan Sungai Mentaya. Di tengah kepungan kabut asap, motoris memilih tetap melayani penumpang dengan menyesuaikan perjalanan terhadap kondisi sungai demi menjaga keselamatan. (su)