KALAMANTHANA, Palangka Raya – 25 tahun sudah Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF menjadi pemimpin umat Katolik di Keuskupan Palangka Raya, tepatnya pada 7 Mei 2026.

Sejumlah akademisi Katolik di Kalimantan Tengah pada saat talkshow yang merupakan rangkaian perayaan pesta episcopal memberikan tanggapan dan penilaian terhadap Uskup Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF.

Akademi Universitas Palangka Raya Prof Petrus Poerwadi di Palangka Raya, Jumat, (8/5/2026) mengatakan Mgr Aloysius merupakan sosok pemimpin yang sangat tenang dalam melihat sekaligus memutuskan berbagai persoalan di internal maupun eksternal gereja Katolik.

Uskup Aloysius kata dia, tentu banyak tahu persoalan yang sedang terjadi, bukan hanya tentang umat dan gereja Katolik, tetapi juga daerah ini. “Walau begitu, beliau tidak mau berkomentar jika memang tidak diminta. Beliau tetap tenang," ujarnya.

Selain itu, menurut Prof Petrus, Uskup Keuskupan Palangka Raya ini juga sangat dikenal sebagai pendengar yang baik, sehingga dalam membuat atau mengambil keputusan, selalu melihat dari berbagai sisi dan menyejukkan.

"Saya melihat, ketenangan dan pendengar yang baik itu membuat Uskup Aloysius tidak mudah terprovokasi.  Kami tidak pernah mendengar ataupun mengetahui Mgr membuat pernyataan yang kontroversial atau memicu perdebatan bagi umat Katolik maupun umat lainnya," tandas Prof Petrus.

Akademisi lainnya yang juga Dosen Pasca Sarjana di Universitas Palangka Raya Dr FX Manesa, melihat sosok Uskup Aloysius sebagai low profile dan high quality. Hal itu terlihat dari kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesahajaan, tidak menonjolkan diri, dan menghindari perhatian secara berlebihan.

"Padahal intelektual dan prestasi Mrg Aloysius sangat banyak. Tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional. Itu tidak pernah beliau tunjukkan," kata dia.

Selain itu, lanjut dia, sekalipun Uskup Aloysius merupakan pemimpin tertinggi dan sangat didengar oleh Umat Katolik di Kalteng, tidak pernah sekalipun dimanfaatkan untuk kepentingan politik, baik itu ditingkat legislatif maupun eksekutif.

"Saya tidak pernah mendengar atau mengetahui Mgr Aloysius, sekalipun sudah 25 tahun sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik di Kalteng, memberikan pernyataan secara terbuka mendukung calon tertentu. Beliau tetap pada porsinya sebagai imam dan penyejuk," kata Manesa.

Pernyataan dua akademisi ini disampaikan pada saat Talkshow Kreatif bertajuk "Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan", yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Perak Tahbisan Uskup Palangka Raya, Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka.

Uskup Aloysius pun mengaku terharu melihat antusiasme seluruh lapisan masyarakat, khususnya umat Katolik dalam menyambut Pesta Perak tahbisannya. Apalagi pesta perak itu diisi  berbagai acara yang bermanfaat, sekaligus dihadiri sejumlah pejabat. (sly)