KALAMANTHANA, Muara Teweh – Wajar jika Satpolairud Polres Barito Utara kian intensif melakukan patroli di DAS Barito. Sungai Barito akhir-akhir ini diam-diam menyeramkan.

Teranyar, Satpolairud Polres Barito Utara melakukan patroli dan menyambangi kawasan pinggiran Sungai Barito di Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara, Senin 8 Juni 2026.

Menggunakan sarana apung Kapal Polisi XVII-2004-31, personel Satpolairud menyisir jalur perairan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan sekaligus memberikan rasa aman bagi warga yang beraktivitas di sungai.

Tidak hanya berpatroli, Satpolairud Polres Barito Utara juga mengedepankan pendekatan humanis melalui kegiatan pemolisian masyarakat (Polmas) perairan.

Mengantisipasi potensi gangguan dan terutama memberikan rasa aman bagi warga yang beraktivitas di sungai menjadi penting karena banyak kejadian memilukan di Sungai Barito wilayah Barito Utara akhir-akhir ini.

Sepanjang tahun 2026 saja, sedikitnya terjadi tiga peristiwa mengenaskan dan memilukan. Warga yang tenggelam, hanyut, dan terbawa arus di Sungai Barito, rata-rata ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Apa saja peristiwa memilukan itu?

1.Balita tenggelam di Lemo

Jumat 20 Maret 2026 akan tercatat sebagai salah satu catatan kelam dalam hal kecelakaan di perairan DAS Barito di wilayah Barito Utara. Seorang balita, Sri Jimah, ditentuman tenggelam tak bernyawa.

Sri Jimah pertama kali hilang pada Selasa 17 Maret 2026 di Perairan Sungai Barito, tepatnya di Desa Lemo 1, Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.

Balita perempuan berusia 2 tahun itu dilaporkan hanyut misterius di sekitar pinggiran sungai di desa tersebut.

Dia baru ditemukan setelah proses pencarian berlangsung empat hari. Pada Jumat 20 Maret 2026, warga menemukan Sri Jimah tak lagi bernyawa.

Bagaimana masih bisa bertahan hidup jika balita berusia 2 tahun itu tenggelam terseret arus pasang yang sangat kuat. Dia terombang ambing sejauh 148,28 kilometer hingga akhirnya ditemukan di perairan Buntok, Barito Selatan.

2.Insiden Kapal CPO PT MPG

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu 4 April 2026 tengah malam, sekitar pukul 21.00 WIB di Kelurahan Lanjas, Muara Teweh.

Saat itu, di area jetty atau pelabuhan minyak sawit mentah PT Multipersada Gatramegah (MPG), anggota Polres Murung Raya Bripda Vikma Setiawan (22) dan anak buah kapal Aleksandro Brianonggasa (25), terjatuh dari kapal.

Kapal Mitra Jaya V yang ditumpangi keduanya, kehilangan keseimbangan saat hendak bersandar. Benturan kapal mengakibatkan Bripda Vikma Setiawan jatuh terlempar ke sungai.

Berniat memberikan pertolongan, Aleksandro Brianonggasa malah ikut terseret arus deras Sungai Barito. Pria asal Nusa Tenggara Timur itu pun ikut tenggelam.

Dua hari proses pencarian Vikma Setiawan dan Aleksandro Brianonggasa, baru membuahkan hasil. Sayangnya, saat ditemukan, keduanya pun sudah meninggal dunia.

3.Anak tenggelam di Pepas

Ahmad Ansyari Amrullah, anak laki-laki berusia 6 tahun, hilang sejak Selasa 12 Mei 2026. Dia diduga tenggelam di Sungai Barito di Desa Pepas, Kecamatan Montallat.

Saat itu, Ahmad Ansyari Amrullah sedang bermain di sekitar perairan di desanya. Tiga-tiga, dia tersapu arus Sungai Barito, tenggelam, dan dibawa arus deras sungai.

Tiga hari lamanya Tim SAR Gabungan melakukan pencarian. Pada Kamis 14 Mei 2026, Ahmad Ansyari Amrullah akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Sama seperti balita di Desa Lemo, Ahmad Ansyari Amrullah lama terombang-ambing arus Sungai Barito. Dia ditemukan mengapung sejauh 53 kilometer dari titik awal hilangnya. (*)