Geger! Orangutan Muncul di Tengah Perkebunan Sawit PT TASK di Cempaga

Penulis: Redaksi  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:16:25 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Kemunculan seekor orangutan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT TASK 3, wilayah Lubuk Ranggan, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjadi perhatian pekerja dan warga sekitar.

Orangutan, satwa liar dilindungi tersebut ditemukan berada di afdeling 88, Sabtu 15 Agustus 2026. Lokasinya masih berada di kawasan perkebunan dan cukup jauh dari permukiman penduduk.

Warga setempat, Ardi, mengatakan kemunculan orangutan di lokasi tersebut merupakan kejadian yang baru diketahuinya. Dari pengamatannya, hanya satu ekor satwa yang terlihat berada di area perkebunan.

Menurut Ardi, orangutan itu terlihat bergerak di sekitar kawasan perkebunan. Kemunculannya diduga berkaitan dengan kebutuhan satwa mencari air di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.

“Yang terlihat satu ekor. Kemunculannya baru pertama kali diketahui di sekitar afdeling 88. Kemungkinan satwa sedang mencari sumber air untuk minum sekaligus mandi,” kata Ardi.

Ia menyebut hingga saat ini belum ada laporan mengenai orangutan tersebut yang mengganggu pekerja ataupun warga. Satwa juga belum terlihat mendekati permukiman.

“Sejauh ini tidak ada gangguan kepada orang. Lokasinya masih jauh dari permukiman dan hanya terlihat melintas di kawasan perkebunan,” ujarnya.

Kemunculan tersebut terjadi ketika kondisi cuaca di Kotim masih didominasi kemarau. Berkurangnya air di sejumlah kawasan diduga dapat memengaruhi aktivitas dan pergerakan satwa liar dalam mencari kebutuhan hidupnya.

Meski dugaan tersebut muncul dari pengamatan warga, penyebab pasti orangutan berada di kawasan perkebunan belum dapat dipastikan. Perlu pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui apakah satwa tersebut hanya melintas atau sedang mencari lokasi yang memiliki sumber air dan makanan.

Keberadaan orangutan di kawasan perkebunan menjadi perhatian karena wilayah tersebut juga menjadi tempat berlangsungnya aktivitas manusia. Kondisi dapat menjadi rawan apabila satwa bergerak semakin dekat dengan pekerja atau permukiman.

Karena itu, pihak perusahaan disebut telah melaporkan temuan tersebut kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Pelaporan dilakukan agar keberadaan satwa dapat dipantau dan ditangani sesuai prosedur apabila diperlukan.

Warga dan pekerja di sekitar lokasi juga diharapkan tidak melakukan tindakan sendiri apabila kembali menemukan orangutan. Satwa liar tersebut sebaiknya tidak didekati maupun dipancing agar mendekat kepada manusia.

Apabila kembali terlihat, warga cukup menjaga jarak dan melaporkan lokasi keberadaannya kepada pihak perusahaan atau petugas terkait. Langkah tersebut diperlukan agar proses pemantauan dapat dilakukan tanpa mengganggu satwa.

Orangutan juga tidak diperbolehkan ditangkap, dikejar, diberi makan, atau diusir secara sembarangan. Tindakan tersebut dapat membuat satwa merasa terancam dan justru meningkatkan risiko terjadinya konflik.

Kemunculan orangutan ini menjadi perhatian lain di tengah dampak kemarau yang sedang dirasakan masyarakat Kotim. Tidak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air dan aktivitas manusia, kondisi lingkungan yang kering juga dapat memengaruhi pergerakan satwa di habitatnya.

Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kawasan habitat dan sumber air alami. Dengan kondisi lingkungan yang tetap terjaga, satwa liar diharapkan tidak perlu bergerak terlalu jauh hingga masuk ke wilayah yang banyak aktivitas manusia.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari BKSDA terkait kondisi maupun pergerakan orangutan yang ditemukan di kawasan perkebunan Lubuk Ranggan tersebut.

Warga berharap keberadaan satwa tersebut dapat ditangani dengan baik sehingga tidak terjadi konflik dengan manusia. Keselamatan warga, pekerja, serta keberlangsungan hidup orangutan tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan bersama. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top