Karhutla Kotawaringin Timur Makin Brutal, Kepala BPBD dan Relawan Tumbang Dihantam Asap Pekat

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:43:46 WIB

KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur semakin mengkhawatirkan. Kepala BPBD Multazam jadi korbannya.

Karhutla di Kotawaringin Timur tak hanya menghanguskan lahan dan mengancam permukiman, kobaran api juga mulai berdampak langsung terhadap petugas dan relawan yang berada di garis depan pemadaman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengalami sesak napas setelah terpapar asap pekat saat terlibat langsung dalam pemadaman karhutla di kawasan Jalan Revolusi Lingkar Selatan, Sampit, Minggu (23/8/2026) malam.

Saat berada di lokasi, Multazam harus berhadapan langsung dengan asap tebal dan angin. Ia beberapa kali keluar-masuk area pemadaman untuk membantu menangani kobaran api. Setelah meninggalkan lokasi, kondisi kesehatannya justru menurun.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan dirinya mendapat informasi mengenai kondisi Multazam sekitar pukul 20.27 WIB.

“Dia itu menghadapi angin dan asap. Jadi mungkin masuk hidung. Dia sempat dua kali, masuk, keluar, masuk lagi. Nah, yang satu, si Rini, itu duluan tumbang. Beliau yang kedua,” kata Rihel, Selasa 25 Agustus 2026.

Multazam sempat pulang setelah meninggalkan lokasi pemadaman. Namun, tidak lama kemudian ia mengeluhkan sesak napas dan meminta bantuan untuk dibawa ke rumah sakit.

“Setelah itu mengalami rasa sesak napas. Setelah telepon saya, ‘Bu, tolong bantu aku antar ke rumah sakit,’” ujarnya.

Rihel kemudian mendatangi Multazam dan mendampinginya hingga mendapatkan penanganan medis. Sekitar pukul 22.30 WIB, Multazam disebut telah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah untuk beristirahat.

Rihel menilai kondisi tersebut kemungkinan tidak hanya dipengaruhi paparan asap. Aktivitas penanganan karhutla yang padat dalam beberapa hari terakhir membuat waktu istirahat Multazam sangat terbatas.

Multazam diketahui baru tiba dari Palangka Raya sekitar pukul 01.30 WIB. Tak lama kemudian, ia kembali terlibat dalam penanganan karhutla hingga dini hari.

“Jadi otomatis kan dia kurang tidur, kecapekan. Ditambah lagi waktu terakhir kemarin di Jalan Revolusi Gang 4/5 menghadapi asap langsung berhadapan,” jelasnya.

Kondisi serupa juga dialami sejumlah relawan yang ikut berjibaku memadamkan karhutla. Rizky Mubarrak, relawan Redkar Masjid Jami Assalam, sempat pingsan setelah berjam-jam membantu proses pemadaman. Ia kemudian dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan medis.

Relawan lainnya, Dhimas dari Relawan Ketapi 3, juga dilaporkan tumbang ketika membantu memadamkan api yang berada di sekitar permukiman warga. Kondisinya disebut berkaitan dengan kelelahan dan paparan asap selama berada di lokasi.

Tumbangnya Multazam dan sejumlah relawan menunjukkan beratnya kondisi penanganan karhutla di Kotim. Mereka harus bekerja berjam-jam menghadapi panas api, asap pekat, angin, serta medan yang tidak mudah, sementara waktu istirahat sangat terbatas. (su)
 

Reporter: Redaksi
Back to top