KALAMANTHANA, Sampit – Karhutla di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tak hanya menyisakan asap dan lahan terbakar. Tak sedikit satwa liar yang mati, mulai dari ular hingga biawak.
Temuan tersebut menjadi gambaran lain dari peristiwa karhutla yang terjadi di tengah permukiman dan kawasan terbuka di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Satwa yang selama ini hidup di semak, pepohonan maupun sekitar lahan gambut Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, ikut terdampak ketika api bergerak melewati habitat mereka.
Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya menerima sejumlah laporan terkait temuan satwa liar yang mati akibat kebakaran.
“Setelah dilakukan pengecekan di beberapa lokasi yang terbakar, memang ditemukan sejumlah satwa dalam kondisi mati,” kata Muriansyah kepada wartawan di Sampit, Sabtu 29 Agustus 2026.
Temuan tersebut didominasi satwa jenis reptil. Di antaranya ular sanca batik atau sanca kembang (Malayopython reticulatus), sanca depung (Python breitensteini), kobra hingga king cobra.
“Ular menjadi salah satu satwa yang cukup sering ditemukan setelah kebakaran. Ada sanca batik, sanca depung, kobra dan king cobra," ujarnya.
Jumlah tersebut belum menggambarkan keseluruhan satwa yang menjadi korban. BKSDA masih kesulitan memastikan jumlah sebenarnya karena sebagian bangkai satwa berada di kawasan yang terbakar dan tidak seluruhnya dapat ditemukan.
Kondisi lapangan juga membuat pendataan korban satwa menjadi tidak mudah. Setelah api melintas, vegetasi berubah menjadi hamparan sisa pembakaran.
Bangkai satwa dapat berada di antara semak yang hangus maupun lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Temuan serupa juga dilakukan pencinta reptil di Sampit, Hary Siswanto. Selama sekitar dua pekan menyusuri sejumlah lokasi terdampak karhutla, ia menemukan sedikitnya 26 satwa liar dalam kondisi mati.
Jumlah tersebut terdiri atas 20 ekor sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak dan satu ekor ular air.
"Total yang kami temukan selama dua pekan ini ada 20 jenis sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. Semuanya sudah dalam kondisi mati," kata Hary.
Temuan itu menunjukkan bahwa kobaran api tidak hanya mengubah kondisi lahan, tetapi juga langsung mengenai kehidupan yang berada di dalamnya.
Satwa yang berada di permukaan maupun bersembunyi di antara vegetasi memiliki kesempatan yang berbeda untuk menyelamatkan diri. Ketika api bergerak cepat dan mengepung kawasan, sebagian satwa tidak sempat berpindah ke tempat yang aman.
Burung juga termasuk satwa yang rentan terdampak. Anak burung yang masih berada di sarang dan belum mampu terbang tentu memiliki kemampuan terbatas untuk menghindari kobaran api.
Sementara bagi satwa yang berhasil keluar dari kawasan terbakar, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Hilangnya vegetasi membuat tempat berlindung dan sumber makanan mereka ikut berkurang.
Muriansyah mengatakan dampak karhutla terhadap satwa tidak hanya dapat dilihat dari jumlah hewan yang ditemukan mati.
"Korban bukan hanya yang ditemukan mati. Satwa yang kehilangan habitat juga menjadi korban karhutla. Tempat mereka mencari makan dan berlindung bisa hilang akibat kebakaran," katanya.
Bagi Hary, temuan puluhan satwa tersebut menjadi bagian paling menyedihkan dari peristiwa karhutla yang terjadi di Kotim. Di balik lahan yang terbakar, terdapat kehidupan liar yang ikut terdampak tanpa mampu menghindari bencana.
"Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah," ujarnya.
Menurut Hary, keberadaan satwa liar tidak dapat dipisahkan dari keseimbangan lingkungan.
"Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem," katanya.
Temuan bangkai satwa akhirnya menjadi catatan lain dalam rangkaian peristiwa karhutla di Kotim. Ketika petugas berjibaku memadamkan titik api, dampak kebakaran ternyata telah lebih dulu menyentuh kehidupan di dalam habitat.
Lahan yang terbakar dapat kembali menghijau setelah melalui proses pemulihan. Namun, satwa yang telah mati tidak dapat kembali, sementara satwa yang kehilangan habitat harus mencari ruang hidup baru.
Karhutla pun bukan hanya meninggalkan persoalan asap dan lahan yang menghitam. Temuan satwa liar yang mati memperlihatkan bahwa setiap titik api juga berpotensi membawa dampak langsung terhadap kehidupan di dalam ekosistem. (su)