KALAMANTHANA, Sampit – Api telah padam di Baamang Barat, Kotawaringin Timur, tetapi ancamannya meninggalkan cerita lain di balik lahan yang hangus. Seekor teringgiling ditemukan di bekas lahan karhutla.

Trenggiling dengan berat sekitar 2 kilogram itu ditemukan masih hidup di kawasan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Bumi Raya I, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Trenggiling, satwa liar yang dilindungi tersebut ditemukan pada Rabu 16 Agustus 2026 malam saat Komunitas Reptil Sampit melakukan penyisiran di kawasan terdampak karhutla di Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur.

Di tengah kondisi lahan yang telah terbakar, keberadaan teringgiling itu memperlihatkan bagaimana satwa liar ikut berjuang menyelamatkan diri ketika habitatnya dilalap api.

Teringgiling tersebut ditemukan bersama seekor ular sanca kembang. Keduanya diduga menjadi bagian dari satwa yang terdampak langsung oleh kebakaran, setelah kawasan yang sebelumnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi lahan terbuka dan hangus.

Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan teringgiling ditemukan oleh komunitas saat melakukan penyisiran di kawasan bekas karhutla.

Setelah mengetahui satwa tersebut merupakan jenis yang dilindungi, komunitas langsung mengambil langkah penyelamatan dengan menghubungi petugas.

“Setelah menemukan teringgiling dan mengetahui bahwa satwa tersebut merupakan satwa liar yang dilindungi, mereka langsung menghubungi petugas,” kata Muriansyah, Jumat 28 Agustus 2026.

Teringgiling kemudian diserahkan kepada petugas BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 23.55 WIB. Petugas memeriksa kondisi tubuh satwa tersebut untuk memastikan apakah mengalami luka akibat kebakaran.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang cukup mengejutkan. Meski ditemukan di kawasan yang baru saja dilanda kebakaran, tidak ditemukan luka bakar maupun luka lainnya pada tubuh teringgiling. Kondisinya juga dinilai sehat.

Namun, keselamatan satwa tersebut tidak lantas membuat persoalan selesai. Bagi petugas, kawasan bekas karhutla masih menyimpan ancaman bagi satwa liar lainnya yang kemungkinan tidak sempat melarikan diri atau masih bertahan di sekitar lokasi.

Karena kondisinya sehat, BKSDA tidak mempertahankan teringgiling tersebut terlalu lama di pos. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi satwa dan risiko stres apabila terlalu lama berada dalam penampungan.

Teringgiling kemudian dilepasliarkan kembali pada malam berikutnya di salah satu kawasan di Kotim yang dianggap aman, nyaman, dan jauh dari lokasi karhutla.

“Karena kondisinya tidak luka dan untuk menghindari stres, akhirnya dilepasliarkan di wilayah Kotim. Lokasinya aman dan nyaman untuk satwa tersebut, jauh dari karhutla,” jelas Muriansyah. (su)