Ini Dia Ragam Pemicu Menguatnya IHSG BEI Hingga 52,32 Poin

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 17 Maret 2026 | 10:36:34 WIB

KALAMANTHANA, Jakarta – Libur panjang ikut memberi berkah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI menguat hingga 52,32 poin atau setara 0,75 persen.

Saat perdagangan mulai dibuka, IHSG sudah menguat 52,32 poin  ke posisi 7.074,61. Itu artinya terjadi kenaikan sebesar 0,75 persen.

Tak hanya itu, Indeks LQ45 atau kelompok 45 saham unggulan, juga naik cukup kencang. Dia berada di posisi 720,72 atau naik 6.99 poin setara 0,98 persen.

Apa penyebab menguatnya IHSG BEI? Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebutkan kemungkinannya karena pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral, baik domestik maupun mancanegara.

Selain itu, dia juga menduga investor kini cenderung menahan diri menjelang libur panjang.

“Kecenderungannya investor menahan diri di tengah ketidakpastian yang masih tinggi. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.900-7.150,” katanya di Jakarta, Selasa 17 Maret 2026.

Dari mancanegara, pelaku pasar menantikan keputusan bank sentral di berbagai negara pada pekan ini, termasuk bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, yang dijadwalkan rilis pada Rabu (18/03).

Kebijakan kali ini akan menjadi kesempatan pertama bagi para bank sentral untuk bereaksi terhadap eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang telah memasuki pekan ketiga.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah global masih menjadi perhatian pelaku pasar, seiring ditutupnya Selat Hormuz yang menghambat aliran energi dan mengancam perekonomian dunia.

Meskipun AS telah berupaya meredakan kekhawatiran pasokan, termasuk melalui pelonggaran beberapa sanksi terhadap minyak Rusia, namun, harga minyak mentah terus meningkat.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump meminta beberapa negara untuk membantu AS membuka kembali Selat Hormuz, namun sebagian negara menunjukkan keengganan untuk memberikan bantuan.

Di sisi lain, Trump mengatakan rencana perjalanannya ke China pada akhir Maret 2026 dapat ditunda, karena AS berupaya menekan China untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi, potensi melebarnya defisit APBN, depresiasi Rupiah, serta potensi perlambatan ekonomi domestik, menjadi faktor negatif yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

Presiden Prabowo kembali menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal, dengan menyatakan prinsip utama dalam pemerintahannya yaitu memastikan bangsa Indonesia hidup sesuai dengan kemampuan.

Presiden menekankan bahwa opsi melonggarkan defisit APBN adalah pilihan terakhir. Presiden menyatakan hanya akan mempertimbangkan untuk melebarkan batas defisit APBN maksimal 3 persen dari PDB jika Indonesia menghadapi situasi darurat yang luar biasa.

Di sisi lain, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan meningkat 10,1 persen (yoy) pada Februari 2026, dari sebelumnya 9,96 persen pada Januari 2026. (*)
 

Reporter: Redaksi
Back to top