KALAMANTHANA, Sampit – Situasi mencekam terjadi di ruas Jalan Tjilik Riwut, salah satunya di sekitar kawasan SMKN 1 Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat 28 Agustus 2026 siang.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengamuk di sisi jalan membuat kawasan tersebut dipenuhi asap pekat hingga mengganggu jarak pandang dan memaksa pengendara memperlambat laju kendaraan.
Kobaran api terlihat membakar hamparan lahan kering di sekitar kawasan sekolah. Api yang menjalar di antara vegetasi kering menghasilkan kepulan asap tebal yang kemudian bergerak ke arah badan jalan.
Dalam kondisi tertentu, pandangan pengendara menjadi terbatas karena asap menutupi ruas jalan yang menjadi jalur utama masyarakat.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB, petugas bersama masyarakat masih berjibaku melakukan pemadaman. Mereka berupaya menghentikan pergerakan api agar tidak semakin mendekati jalan dan meluas ke kawasan lainnya.
Namun, kondisi lahan yang kering membuat api relatif cepat menjalar. Kobaran yang muncul di beberapa bagian lahan juga membuat petugas harus berpindah dari satu titik ke titik lainnya untuk memastikan api tidak kembali membesar setelah berhasil dipadamkan.
Bagi pengendara, kondisi tersebut menjadi pengalaman yang cukup mencekam. Mereka harus melintasi ruas jalan yang sebagian tertutup asap sambil mengurangi kecepatan. Kendaraan yang biasanya dapat melaju normal terlihat bergerak perlahan ketika memasuki kawasan dengan kepulan asap paling tebal.
Asap yang memenuhi jalan juga membuat sejumlah warga mengeluhkan kondisi udara. Selain mengurangi jarak pandang, asap pekat menimbulkan rasa sesak dan membuat mata terasa perih.
“Sempat macet, mana asap pekat, sesak dada, perih mata,” ujar Jaya, warga yang melintas di kawasan tersebut.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena lokasi kebakaran berada sangat dekat dengan jalur lalu lintas. Ketika asap bergerak menutup badan jalan, pengendara tidak hanya menghadapi gangguan kenyamanan, tetapi juga harus meningkatkan kewaspadaan karena jarak pandang dapat berubah secara tiba-tiba.
Kebakaran tersebut diketahui telah muncul sejak Rabu malam. Menurut warga di lokasi, api pertama kali terlihat di bagian depan SMKN 1 Kota Besi sebelum kemudian merambat ke area yang lebih luas.
"Awalnya di depan SMKN 1 Kota Besi, kemudian apinya terus merambat sampai mendekati jalan, ngeri" ujar Jaya.
Besarnya area yang terbakar membuat proses pemadaman berlangsung tidak mudah. Petugas harus berhadapan dengan kondisi lahan yang kering dan titik api yang dapat kembali muncul di bagian lain. Kepulan asap dari lahan terbakar pun terus membubung dan menyelimuti kawasan sekitar.
Gangguan serupa juga terjadi di wilayah Baamang, tepatnya sekitar Kilometer 7 Jalan Tjilik Riwut. Api yang sebelumnya sempat dipadamkan kembali muncul sehingga menghasilkan asap pekat yang bergerak menuju badan jalan.
Kondisi tersebut membuat pengguna Jalan Tjilik Riwut harus ekstra berhati-hati. Pengendara yang memasuki kawasan terdampak asap diminta mengurangi kecepatan dan memastikan kondisi jalan di depan sebelum melanjutkan perjalanan.
Karhutla yang berada di pinggir jalan ini sekaligus memperlihatkan betapa cepatnya api berkembang di tengah kondisi lahan yang kering. Kebakaran yang semula berada di area terbuka kini dampaknya dirasakan langsung masyarakat, mulai dari terganggunya jarak pandang hingga tersendatnya arus lalu lintas.
Hingga Jumat sore, petugas dan masyarakat masih melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik. Kobaran api terus dipantau untuk mencegahnya kembali membesar dan menjalar semakin dekat ke permukiman maupun fasilitas yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Di tengah kepungan asap dan kobaran api, pengendara yang melintas pun harus meningkatkan kewaspadaan. Jalan yang biasanya menjadi jalur aktivitas masyarakat berubah menjadi kawasan yang dipenuhi asap, sementara api masih terlihat membakar lahan di sisi jalan. (su)