KALAMANTHANA, Sampit – Tragedi dalam rangkaian penindakan kasus narkoba di Kabupaten Katingan menjadi sorotan tajam jajaran Brimob Polda Kalimantan Tengah.
Insiden yang menelan korban jiwa tersebut dinilai sebagai peringatan keras bahwa peredaran narkotika di wilayah Kalteng masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan membutuhkan langkah penanganan yang lebih agresif, terukur, dan berkelanjutan.
Komandan Satuan Brimob Polda Kalteng, Kombes Pol Irwan Jaya, menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak akan mengendurkan semangat aparat dalam melakukan pemberantasan narkoba.
Sebaliknya, kejadian itu menjadi pemicu untuk memperkuat strategi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperketat koordinasi antar-satuan di lapangan.
Ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh korban, baik dari unsur aparat kepolisian maupun masyarakat sipil yang terdampak dalam operasi tersebut.
Menurutnya, setiap korban dalam tugas penegakan hukum harus menjadi pengingat bahwa ancaman narkoba memiliki dampak yang luas dan tidak mengenal batas.
“Peristiwa ini menjadi duka bagi kita semua. Namun sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman narkoba nyata, dan penanganannya tidak bisa dilakukan setengah hati,” ujarnya di Sampit, Minggu (5/7/2026).
Irwan menegaskan, Brimob siap memberikan dukungan penuh kepada satuan kewilayahan dalam setiap operasi penegakan hukum, khususnya yang memiliki risiko tinggi dan memerlukan kekuatan taktis tambahan. Kesiapan personel dan satuan khusus, kata dia, menjadi bagian penting dalam memastikan setiap operasi berjalan efektif dan terukur.
“Brimob selalu dalam posisi siap bergerak. Ketika dibutuhkan, kami akan turun untuk memperkuat jajaran kewilayahan dalam penindakan di lapangan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa peredaran narkoba di Kalimantan Tengah masih menunjukkan pola yang aktif dan terstruktur. Kondisi ini menuntut pendekatan yang tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga penguatan intelijen, pencegahan, serta keterlibatan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, tanpa dukungan publik, upaya pemberantasan narkoba akan berjalan terbatas. Informasi dari masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam mengungkap jaringan peredaran yang kerap bergerak secara tertutup.
“Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Perlu partisipasi masyarakat agar jaringan narkoba bisa diputus sampai ke akar-akarnya,” ujarnya.
Selain itu, Brimob juga mengingatkan seluruh personel untuk tetap menjunjung tinggi profesionalisme, disiplin prosedur, dan kewaspadaan tinggi dalam setiap pelaksanaan tugas. Hal ini penting untuk meminimalisir risiko serta memastikan operasi berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Tragedi di Katingan kini menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi aparat penegak hukum di Kalimantan Tengah. Penguatan koordinasi lintas satuan, peningkatan kemampuan personel, serta strategi penindakan yang lebih presisi menjadi fokus utama ke depan.
Brimob Kalteng menegaskan, perang terhadap narkoba tidak akan berhenti. Justru akan diperkuat dengan pendekatan yang lebih tegas, terarah, dan tanpa kompromi terhadap para pelaku peredaran gelap narkotika. (su)