KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) selama musim kemarau 2026. Hingga Sabtu (11/7/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat puluhan kejadian kebakaran dengan luasan lahan yang terbakar terus bertambah di sejumlah kecamatan.

Data BPBD menunjukkan sepanjang tahun 2026 telah terjadi 65 kejadian karhutla. Dari jumlah tersebut, 57 kejadian berhasil ditangani oleh tim gabungan yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan, perusahaan, relawan, hingga masyarakat. Sementara itu, luas lahan yang terbakar mencapai 143,99280 hektare.

Selain kebakaran yang terjadi di lapangan, pemantauan melalui satelit juga mendeteksi 338 titik panas (hotspot) yang tersebar di 17 kecamatan. Temuan hotspot tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila tidak segera diantisipasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan seluruh data tersebut diperoleh dari hasil pemantauan dan penanganan di lapangan hingga 11 Juli 2026.

"Data hingga 11 Juli 2026 menunjukkan terdapat 338 hotspot di wilayah Kotawaringin Timur. Dari 65 kejadian karhutla yang tercatat, 57 di antaranya telah dilakukan penanganan dengan total luas lahan terbakar mencapai 143,99280 hektare," ujarnya.

Berdasarkan luasan kebakaran, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan dampak paling besar. Total lahan yang terbakar di kecamatan tersebut mencapai 33,827 hektare. Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya.

Di bawahnya terdapat Kecamatan Baamang dengan luas kebakaran 21,94780 hektare, disusul Pulau Hanaut seluas 20,750 hektare, Teluk Sampit 8,300 hektare, Mentaya Hilir Utara 4,308 hektare, Telawang 1,500 hektare, Mentaya Hulu 1,450 hektare, dan Kota Besi 0,910 hektare.

Jika dilihat dari jumlah titik panas, kondisi berbeda terlihat di Kecamatan Kota Besi yang mencatat 77 hotspot, terbanyak di Kotim. Setelah itu Antang Kalang dengan 69 hotspot, Mentaya Hulu 31 hotspot, Telaga Antang dan Tualan Hulu masing-masing 23 hotspot, serta Bukit Santuai sebanyak 22 hotspot.

BPBD juga mencatat kawasan tengah Kotim menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 72,185 hektare atau sekitar 50,13 persen dari total lahan yang terbakar. Sementara kawasan utara mencapai 70,35780 hektare atau 48,86 persen, sedangkan kawasan selatan hanya 1,450 hektare atau sekitar 1,01 persen.

Menurut Multazam, data luas kebakaran merupakan hasil pengukuran langsung di lokasi setelah proses pemadaman dilakukan. Pendataan tersebut menjadi dasar evaluasi penanganan sekaligus menentukan daerah yang membutuhkan perhatian lebih selama musim kemarau berlangsung.

BPBD pun kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat bergerak cepat sebelum kebakaran meluas.

"Pencegahan merupakan langkah yang paling penting. Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api sehingga dapat ditangani lebih cepat," pungkasnya. (sly