KALAMANTHANA, Sampit – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda mereda. Dalam rentang waktu kurang dari enam jam, dua kebakaran lahan kembali terjadi di wilayah Kota Sampit pada Minggu (12/7), bahkan kobaran api sempat mendekati permukiman warga dan jaringan listrik.

Cepatnya penyebaran api di tengah cuaca kering membuat petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim harus berpacu dengan waktu agar api tidak berubah menjadi bencana yang lebih besar.

Kebakaran pertama dilaporkan sekitar pukul 13.25 WIB di belakang rumah warga di Jalan Desmon Ali Nomor 17, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang. Asap tebal yang muncul dari semak belukar membuat warga segera menghubungi petugas pemadam.

Personel Peleton 2 Disdamkarmat bergerak hanya beberapa menit setelah laporan diterima. Saat tiba di lokasi, api telah menghanguskan semak belukar di lahan sekitar 6 x 8 meter dan terus bergerak menuju area permukiman.

Berkat penanganan cepat, kobaran api berhasil dipadamkan sekitar 10 menit kemudian sebelum sempat menjalar ke bangunan warga. Dugaan sementara, kebakaran dipicu aktivitas pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga api merembet ke lahan kering.

Belum selesai melakukan penanganan, petugas kembali mendapat laporan kebakaran lahan pada pukul 18.25 WIB di Jalan MT Haryono Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Situasi di lokasi kedua jauh lebih berisiko. Api muncul di dua titik sekaligus, masing-masing berada sekitar tiga meter dari rumah warga dan sekitar 10 meter dari tiang listrik. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra agar api tidak memicu kebakaran permukiman maupun mengganggu jaringan kelistrikan.

Proses pemadaman berlangsung selama kurang lebih 38 menit. Petugas akhirnya berhasil menguasai seluruh titik api dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai sekitar 20 x 50 meter. Berdasarkan hasil penanganan awal, penyebab kebakaran diduga mengarah pada unsur kesengajaan atau arson.

Kepala Peleton 2 Disdamkarmat Kotim, Muhammad Febbry, mengatakan kecepatan respons menjadi faktor utama untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.

"Begitu menerima laporan, personel langsung menuju lokasi. Fokus utama kami adalah menghentikan penyebaran api agar tidak sampai membakar rumah warga maupun fasilitas di sekitarnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan maupun membakar sampah sembarangan karena kondisi vegetasi yang mulai mengering membuat api sangat mudah membesar.

"Kami mengimbau masyarakat lebih peduli terhadap potensi kebakaran. Jangan membakar sampah atau lahan. Bila melihat titik api sekecil apa pun, segera laporkan agar bisa ditangani sebelum meluas," tegasnya.

Dalam operasi tersebut, Disdamkarmat mengerahkan personel dan armada pemadam. Penanganan kebakaran di Baamang turut dibantu Relawan Kebakaran Swadaya Baamang, sedangkan di Mentawa Baru Ketapang mendapat dukungan Babinsa Koramil Ketapang.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan bangunan, dua kejadian dalam satu hari ini menjadi sinyal bahwa risiko karhutla di Kotim semakin meningkat. Dengan musim kemarau yang mulai berlangsung, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kebakaran yang lebih besar. (su)