KALAMANTHANA, Sampit – Kepanikan terjadi di sekitar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kotawaringin Timur (Kotim), Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Rabu (2/9). Kobaran api dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terlihat semakin mendekati pagar sekolah.

Asap pekat mengepul dari kawasan lahan yang terbakar. Api terus terlihat di sekitar area sekolah, sementara di lokasi masih terdapat sisa material pembangunan yang dikhawatirkan ikut tersambar apabila kobaran semakin meluas.

Situasi tersebut membuat pihak yang berada di kawasan SRT 1 meningkatkan kewaspadaan. Pergerakan api yang mengarah ke pagar sekolah menjadi perhatian karena jaraknya semakin dekat dengan lingkungan fasilitas pendidikan.

Salah satu petugas SRT 1 Kotim, Siti Hamdanah, mengaku khawatir melihat api yang mulai mendekati kawasan sekolah.

“Api sudah mengarah ke sini, dekat dengan pagar SR. Kalau bisa bagian sini segera diblok agar tidak sampai masuk,” ujar Siti di lokasi.

Ia juga menunjukkan area sekitar pagar yang masih terdapat sisa material pembangunan. “Di sekitar sini masih banyak sisa material bangunan,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat ancaman semakin mengkhawatirkan apabila api berhasil menjalar ke sisi pagar sekolah. Pihaknya kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas pemadam kebakaran untuk segera dilakukan penanganan.

Namun, hingga sekitar pukul 15.30 WIB, petugas pemadam belum tiba di lokasi.

Sementara itu, pihak yang berada di sekitar SRT 1 masih memantau pergerakan api. Kekhawatiran semakin meningkat apabila angin membuat kobaran bergerak lebih cepat menuju pagar sekolah.

Selain mengancam bangunan, Karhutla juga menyebabkan asap pekat di sekitar kawasan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas dan keselamatan lingkungan sekolah apabila kebakaran terus meluas.

Pihak SRT 1 berharap penanganan segera dilakukan sebelum api mencapai pagar dan menjalar ke area sekolah yang masih terdapat material pembangunan.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa ancaman Karhutla di sekitar kawasan pendidikan masih sangat nyata. Penanganan cepat diperlukan agar kobaran tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan mengancam fasilitas SRT 1 Kotim. (su)