KALAMANTHANA, Sampit – Langit Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, terlihat cerah pada Kamis (10/9/2026) pagi. Tapi, jangan terperdaya.

Di tengah langit cerah itu, jalanan Kota Sampit tetap dipenuhi aktivitas warga seperti biasa. Namun, kondisi yang terlihat mata ternyata berbanding terbalik dengan kualitas udara.

Di balik langit yang tampak terang, udara Sampit justru berada dalam kategori berbahaya. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar tidak menjadikan tampilan langit sebagai patokan bahwa udara sedang aman.

Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kabupaten Kotim pada Kamis pagi menunjukkan kualitas udara berada pada tingkat yang dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Parameter kritis yang tercatat adalah PM10, partikel pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena polusi udara tidak selalu terlihat seperti kabut asap pekat. Saat langit tampak bersih dan jarak pandang masih cukup baik, konsentrasi partikel pencemar tetap dapat berada pada tingkat tinggi.

Artinya, warga yang keluar rumah pada pagi hari belum tentu sedang menghirup udara yang aman hanya karena kondisi visual terlihat normal.

Nurdin, salah seorang warga Sampit, mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

“Kalau melihat langit memang seperti biasa, tetapi kalau kualitas udaranya sudah berbahaya tentu kita tidak boleh menganggap sepele. Kalau keluar rumah, sebaiknya tetap pakai masker,” ujarnya.

Data pemantauan juga mencatat kelembapan udara sekitar 99 persen, tekanan udara 1.011 mBar, dan suhu 23 derajat Celsius.

Kondisi udara seperti ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara. Paparan partikel dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan.

Warga yang tidak memiliki keperluan mendesak juga perlu mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dihindari ketika kualitas udara sedang memburuk.

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel udara. Warga juga perlu memantau perkembangan kualitas udara karena kondisinya dapat berubah dalam waktu singkat.

Terlebih, Kotim masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pergerakan asap dan partikel pencemar dapat dipengaruhi arah angin, kondisi atmosfer, serta perkembangan titik kebakaran di berbagai wilayah.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bahaya polusi udara tidak selalu datang dalam bentuk asap tebal yang terlihat jelas. Udara dapat terlihat normal, tetapi kualitasnya tetap berisiko bagi kesehatan.

Masyarakat diminta tidak terlena dengan kondisi langit yang cerah. Ketika indikator kualitas udara sudah menunjukkan kategori berbahaya, kewaspadaan tetap diperlukan.

Langit yang cerah bukan jaminan udara aman. Di tengah ancaman karhutla yang belum sepenuhnya berakhir, warga Sampit perlu lebih peka terhadap kualitas udara sebelum menjalani aktivitas di luar rumah. (su)