KALAMANTHANA, Sampit – Kesabaran warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kembali diuji. Pemadaman listrik yang terjadi berulang pada Senin (14/9/2026) membuat aktivitas masyarakat tersendat dan memunculkan keluhan mengenai kestabilan pasokan listrik.

Bagi warga, persoalannya bukan semata listrik yang padam selama beberapa jam. Pemadaman yang terjadi berulang membuat masyarakat kesulitan mengatur aktivitas, terutama ketika listrik mati pada jam-jam sibuk.

Warga Sampit, Ridwan, mengatakan kondisi tersebut cukup mengganggu karena banyak kebutuhan sehari-hari bergantung pada listrik. Ketika aliran terputus, pekerjaan rumah hingga aktivitas lainnya ikut terhenti.

“Kalau matinya hanya sebentar mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi kalau berulang dan waktunya cukup lama, tentu warga merasa terganggu,” ujar Ridwan.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian pasokan listrik, terlebih listrik sudah menjadi kebutuhan utama untuk berbagai aktivitas. Pemadaman yang datang tanpa kepastian juga membuat warga harus menunda pekerjaan atau mencari alternatif lain.

Ia menyebut listrik di wilayahnya padam sejak sekitar pukul 15.00 WIB dan baru menyala kembali sekitar pukul 18.00 WIB.

Sementara, Di wilayah Cempaga, pemadaman yang berlangsung sekitar pukul 18.00 WIB hingga 21.30 WIB.

Rentang waktu tersebut bertepatan dengan aktivitas warga pada sore hingga malam hari. Kondisi itu membuat sejumlah kegiatan rumah tangga maupun aktivitas lainnya harus dilakukan dengan keterbatasan.

Situasi tersebut menambah keresahan karena pemadaman terjadi di sejumlah kawasan dengan waktu yang berbeda. Warga pun berharap gangguan tidak menjadi persoalan yang terus berulang.

Berdasarkan informasi PLN ULP Sampit, gangguan kelistrikan tersebut berkaitan dengan gangguan pada sejumlah pembangkit yang berdampak terhadap sebagian pelanggan. Sejumlah wilayah di Sampit dan beberapa kecamatan lain di Kotawaringin Timur turut terdampak.

Wilayah yang masuk dalam daftar terdampak antara lain Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Kota Besi, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara serta sejumlah desa dan kawasan lainnya.

Bagi warga, pemulihan cepat menjadi hal yang paling ditunggu. Sebab, semakin lama listrik padam, semakin banyak aktivitas masyarakat yang ikut tersendat.

Ridwan berharap penanganan gangguan dilakukan secara maksimal agar masyarakat tidak terus dihantui pemadaman berulang.

“Yang diharapkan warga tentu listrik bisa stabil. Jangan sampai hari ini mati, kemudian mati lagi di waktu berbeda. Itu yang membuat aktivitas terganggu,” ujarnya.

PLN ULP Sampit menyampaikan terus melakukan penanganan dan pemulihan gangguan untuk mengurangi dampak yang dirasakan pelanggan. Masyarakat juga dapat melaporkan gangguan melalui layanan PLN Mobile.

Bagi warga Sampit, kestabilan listrik bukan sekadar soal penerangan. Di tengah aktivitas masyarakat yang semakin bergantung pada listrik, pasokan yang stabil menjadi kebutuhan agar pekerjaan, usaha dan kegiatan sehari-hari dapat berjalan tanpa terusik pemadaman. (su)