KALAMANTHANA, Sampit – Nasib miris orangutan di tengah karhutla kembali mencuat. Kali ini terjadi di Desa Kandan, Kecamatan Kotabesi, Kotawaringin Timur.

Di tengah upaya bertahan hidup di alam, seekor induk orangutan harus menghadapi kondisi menyakitkan.

Kedua pergelangan tangannya ditemukan terluka cukup parah akibat lilitan tali yang diduga merupakan jerat babi. Di dekatnya, sang anak yang masih berusia sekitar 10 bulan turut dievakuasi dalam operasi penyelamatan di Desa Kandan, Jumat 23 Oktober 2026 dinihari.

Induk orangutan bernama Gadis itu diperkirakan berusia 25 tahun, sedangkan anaknya, Garis, merupakan orangutan jantan yang masih sangat muda.

Keduanya berhasil diselamatkan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI), dengan dukungan aktivis lingkungan di Sampit.

Kondisi Gadis menjadi perhatian saat petugas melakukan pemeriksaan setelah evakuasi. Pada kedua pergelangan tangannya ditemukan tali yang melilit dan meninggalkan luka cukup parah.

Tali tersebut kemudian diputus agar tidak lagi menekan bagian tubuh yang terluka, sementara luka pada induk orangutan langsung mendapatkan penanganan dokter.

Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan penyelamatan itu berawal dari laporan seorang aktivis lingkungan bernama Awil pada Kamis (22/10/2026) sore.

Informasi tersebut menyebutkan dua orangutan kembali terlihat di wilayah Desa Kandan dan pergerakannya masih dapat dipantau.

“Begitu mendapat kabar kedua orangutan kembali terlihat, kami langsung berkoordinasi dengan warga dan aktivis lingkungan untuk memantau keberadaannya. Kami berupaya agar kesempatan untuk menyelamatkan induk dan anak ini tidak terlewat,” ujar Muriansyah.

Bagi petugas, laporan itu menjadi kesempatan untuk kembali menemukan kedua satwa yang sebelumnya sudah dicari. Pada 12 Oktober 2026, BKSDA Pos Sampit sempat mendatangi lokasi untuk melakukan observasi, tetapi orangutan belum berhasil ditemukan.

Setelah laporan terbaru diterima, informasi diteruskan kepada pimpinan BKSDA di Pangkalan Bun. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi KSDA Wilayah II bersama OFI kemudian bergerak menuju Sampit sekitar pukul 19.00 WIB pada Kamis malam.

Tim tiba di lokasi sekitar pukul 01.00 WIB, Jumat dini hari. Upaya penyelamatan segera dilakukan hingga Gadis dan Garis berhasil dievakuasi. Namun, pemeriksaan awal memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan pada sang induk.

Tali yang ditemukan pada kedua pergelangan tangan Gadis diduga kuat merupakan jerat babi. Bekas lilitannya telah menyebabkan luka cukup parah sehingga memerlukan perawatan medis.

Meski dugaan tersebut muncul dari temuan di lapangan, penyebab pasti luka tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Muriansyah menyampaikan bahwa penanganan terhadap luka induk orangutan menjadi salah satu perhatian utama setelah keduanya berhasil diselamatkan.

“Yang kami prioritaskan setelah evakuasi adalah memastikan kondisi kedua orangutan diperiksa dan mendapatkan penanganan yang diperlukan. Pada induknya ditemukan luka cukup parah di kedua pergelangan tangan, sehingga tali langsung diputus dan lukanya ditangani dokter,” jelasnya.

Operasi penyelamatan tersebut turut dibantu anggota Polda Kalimantan Tengah dan Polres Kotawaringin Timur. Kegiatan itu juga disaksikan Dirpolsatwa Korshabara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto.

Setelah rangkaian penyelamatan dan pemeriksaan awal selesai, tim kembali menuju Pangkalan Bun sekitar pukul 03.00 WIB.

Kisah Gadis dan Garis menjadi gambaran nyata risiko yang dapat dihadapi satwa liar akibat jerat di habitatnya. Alat yang diduga dipasang untuk menangkap babi itu justru ditemukan melukai seekor induk orangutan yang masih harus merawat anaknya.

Di balik keberhasilan evakuasi tersebut, kondisi Gadis mengingatkan bahwa keselamatan satwa liar tidak hanya bergantung pada upaya penyelamatan ketika terluka.

Pencegahan pemasangan jerat sembarangan serta kepedulian masyarakat terhadap keberadaan satwa di sekitar mereka juga penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (*)