KALAMANTHANA, Sampit – Karhutla di Kotawaringin Timur menekan habitat satwa liar. Dua ekor orangutan dilaporkan pernah terlihat di kawasan Jalan Batanggung, Kelurahan Kotabesi, Kecamatan Kotabesi.
Kemunculan satwa dilindungi tersebut di Kotabesi menjadi sorotan lantaran kawasan yang dilaporkan sebagai lokasi perjumpaan merupakan wilayah yang sebagian vegetasinya terdampak karhutla.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ruang hidup dan sumber pakan satwa liar yang berada di sekitar kawasan Kotabesi tersebut.
Informasi mengenai keberadaan dua orangutan diterima BKSDA Pos Sampit pada Jumat (4/9). Laporan awal menyebutkan kedua satwa terlihat di kawasan hutan karet.
Namun, setelah dilakukan penelusuran, informasi tersebut ternyata bukan merupakan temuan baru. Pelapor mengaku melihat dua orangutan itu sekitar dua pekan sebelum laporan diterima petugas.
Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan pihaknya segera melakukan konfirmasi untuk memastikan waktu dan lokasi kemunculan satwa tersebut.
“Dari hasil komunikasi dengan pelapor, perjumpaan itu terjadi kurang lebih dua minggu sebelum laporan masuk. Sejak saat itu orangutan tidak kembali terlihat, sementara bukti visual juga belum tersedia,” kata Muriansyah, Rabu 9 September 2026.
Meski belum terdapat foto maupun video yang bisa memastikan kondisi dan keberadaan kedua satwa tersebut, BKSDA tetap menaruh perhatian terhadap laporan itu. Pasalnya, kawasan Jalan Batanggung sebelumnya juga pernah menjadi lokasi laporan keberadaan satwa liar lainnya.
Petugas bahkan telah beberapa kali melakukan observasi di sekitar kawasan tersebut menyusul laporan kemunculan orangutan maupun beruang madu.
Situasi habitat menjadi persoalan yang tak kalah serius. Sebagian kawasan di sekitar lokasi disebut telah terdampak karhutla, khususnya pada areal semak belukar. Di sisi lain, masih terdapat kawasan perkebunan karet dan kelapa sawit yang beraktivitas dan dikelola masyarakat.
Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang jelajah satwa apabila vegetasi dan sumber pakan di habitat alaminya mengalami kerusakan. Satwa liar dapat bergerak lebih jauh untuk mencari makanan, air, maupun tempat berlindung yang masih aman.
Bagi orangutan, perubahan kondisi habitat bukan persoalan sederhana. Ketika kawasan hutan terfragmentasi atau sumber pakan berkurang, pergerakan satwa dapat semakin mendekati area yang digunakan manusia. Situasi seperti ini berpotensi meningkatkan risiko konflik antara satwa dan masyarakat.
Karena itu, BKSDA mengingatkan warga agar tidak mengambil tindakan sendiri apabila kembali menemukan orangutan di sekitar permukiman, kebun, maupun kawasan yang terdampak kebakaran.
Muriansyah menegaskan masyarakat tidak perlu mencoba mendekati atau mengusir satwa apabila kembali muncul.
“Kalau ada orangutan yang terlihat, jangan dikejar, dikerumuni, ditangkap, apalagi diberi makanan. Amankan jarak dan segera sampaikan informasi kepada petugas supaya keberadaannya bisa kami tindak lanjuti,” tegasnya.
BKSDA juga masih membuka kemungkinan melakukan pemantauan kembali apabila terdapat laporan baru dari masyarakat. Informasi mengenai lokasi, waktu kemunculan, hingga arah pergerakan satwa akan sangat membantu petugas dalam memastikan kondisi di lapangan.
Hingga saat ini, keberadaan dua orangutan yang dilaporkan tersebut belum kembali terpantau. Tidak adanya dokumentasi juga membuat petugas belum dapat memastikan apakah kedua individu itu masih berada di sekitar kawasan atau telah bergerak ke lokasi lain.
Kemunculan satwa tersebut menjadi alarm bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan vegetasi. Ketika kawasan terbakar, yang ikut terdesak adalah satwa yang bergantung pada habitat tersebut untuk bertahan hidup.
Di tengah tekanan kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim, keberadaan satwa liar perlu menjadi perhatian. Penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga mencegah kerusakan habitat semakin parah dan meminimalkan potensi konflik manusia dengan satwa.
Jika dua orangutan itu kembali terlihat, masyarakat diharapkan segera melaporkan temuan tersebut kepada petugas. Respons cepat dinilai penting agar satwa tidak diburu, ditangkap, atau justru semakin terdesak akibat aktivitas manusia di kawasan terdampak karhutla. (su)