KALAMANTHANA, London – Kebudayaan Dayak kian mempesona dunia. Buktinya, pameran Dayak: The Art of Head Hunters mengundang decak kagum di Museo delle Cultura, Lugano, Swiss.

Di pameran ini, ratusan artefak kebudayaan Dayak ditampilkan. Mulai dari pisau apang (mandau), tato etnik, pakaian perang, peti jenazah, hingga patung kayu.

Fungsi Pensosbud KBRI Bern, Swiss, Ruth Yohanna, mengatakan KBRI Bern menyampaikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh pada pelaksanaan pameran ini.

“Dayak adalah salah satu etnis tua Indonesia yang masih terjaga dengan baik. Kami sangat bangga bisa menyaksikan pameran budaya Dayak di Swiss ini,” ujarnya.
Artefak-artefak itu akan dipajang selama sembilan bulan dari tanggal 28 September 2019 sampai 17 Mei 2020.
Paolo Maiullari, seorang kurator dari Swiss  bekerja keras meneliti budaya Dayak dan mengumpulkan artefak sejak awal tahun 2000-an. Dia keluar masuk wilayah hutan di Kalimantan untuk mengoleksi artefak-artefak tersebut.

“Kami ingin warga Swiss melihat sisi lain dari budaya Dayak. Jadi kami menata pameran kontemporer ini dari sudut pandang orang Dayak sendiri,” ujarnya dalam siaran pers. (ik)